Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Selain Indonesia, Grok Juga Diblokir di Malaysia Imbas Konten Pornografi Deepfake

📅 Senin, 12 Jan 2026, 15:18 WIB | Oleh: Tim Penulis
Selain Indonesia, Grok Juga Diblokir di Malaysia Imbas Konten Pornografi Deepfake Doc: AFP
Ket. Sebuah foto yang diambil pada 13 Januari 2025 di Toulouse memperlihatkan layar yang menampilkan logo Grok dan pendirinya, Elon Musk.

KUALA LUMPUR - Malaysia memblokir akses ke chatbot Grok milik Elon Musk karena konten pornografi yang dihasilkan AI, kata regulator teknologi negara itu, Minggu (11/1).

Keputusan ini dikeluarkan menyusul reaksi global terhadap fitur pembuatan gambar Grok yang memungkinkan pengguna untuk menseksualisasi gambar wanita dan anak-anak menggunakan perintah teks sederhana.

Pada hari Sabtu (10/1), Indonesia menjadi negara pertama yang menolak semua akses ke chatbot tersebut. Di negara lain, akses hanya dibatasi untuk pelanggan berbayar.

Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) mengatakan dalam sebuah pernyataan, pembatasan sementara akses ke kecerdasan buatan Grok untuk pengguna di Malaysia dengan segera berlaku.

Ketika seorang reporter AFP di ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, pada hari Minggu memasukkan perintah ke Grok, tidak ada respons.

"Tindakan ini menyusul penyalahgunaan Grok yang berulang untuk menghasilkan gambar cabul, eksplisit secara seksual, tidak senonoh, sangat menyinggung, dan dimanipulasi tanpa persetujuan," kata MCMC.

Pernyataan tersebut mengutip "konten yang melibatkan perempuan dan anak di bawah umur, meskipun telah dilakukan pengawasan regulasi sebelumnya dan pemberitahuan resmi" yang dikeluarkan kepada X Corp milik Musk dan startup xAI yang mengembangkan Grok.

Chatbot AI tersebut terintegrasi ke dalam platform media sosial X.

Regulator Malaysia mengatakan mereka menilai pengamanan platform tersebut tidak memadai, dan akses hanya akan dilanjutkan setelah perubahan yang diperlukan diverifikasi.

X Corp "gagal mengatasi risiko inheren yang ditimbulkan oleh desain dan pengoperasian alat AI", dan "terutama mengandalkan mekanisme pelaporan yang diinisiasi pengguna", kata regulator tersebut.

Para pejabat Eropa dan aktivis teknologi pada hari Jumat mengecam Grok setelah fitur pembuatan gambar kontroversialnya dibatasi untuk pelanggan berbayar. Mereka mengatakan pembatasan tersebut gagal mengatasi kekhawatiran tentang deepfake yang berbau seksual.

Grok tampaknya menangkis kritik tersebut dengan kebijakan monetisasi baru, dengan memposting di X pada hari Kamis bahwa pembuatan dan pengeditan gambar sekarang "dibatasi untuk pelanggan berbayar", bersamaan dengan tautan ke langganan premium.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Laga Generasi Baru Menuju F...

Tim Piala Dunia, Mampukan Brasil Juara Keenam Kalinya?

24 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Mampukan B...
Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

47 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.