IHSG Sempat Anjlok 2 Persen Lalu Bangkit Jelang Penutupan, Ada Apa?
📅 Senin, 12 Jan 2026, 18:55 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: IDX
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (12/1/2026) siang. Indeks bahkan turun lebih dari 2 persen ke level 8.715 setelah dibuka di posisi 8.991.
Meski sempat tertekan, IHSG berhasil menutup Sesi I dengan penguatan tipis. Pada penutupan sesi pagi, indeks naik 0,13 persen atau 11,21 poin ke level 8.947,96.
Pada sesi tersebut, pergerakan saham terbilang cukup berimbang meski volatil. Tercatat 359 saham menguat, 311 saham melemah, dan 141 saham stagnan.
Tekanan kembali terlihat memasuki perdagangan sesi II. Hingga pukul 14.40 WIB, IHSG turun ke level 8.861 dengan dominasi saham merah di pasar.
Pada waktu tersebut, sebanyak 480 saham tercatat melemah, sementara 233 saham menguat dan 98 saham tidak bergerak. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat di sebagian besar sektor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, indeks kembali mencoba bangkit menjelang sore hari. Pada pukul 15.10 WIB, IHSG tercatat naik ke level 8.887 meski mayoritas saham masih berada di zona merah.
Secara keseluruhan, pergerakan saham masih didominasi pelemahan dengan 535 saham turun, 220 saham naik, dan 203 saham tidak bergerak. Nilai transaksi tercatat cukup besar, mencapai Rp27,71 triliun.
Volume perdagangan juga terbilang tinggi dengan total 49,98 miliar saham yang diperdagangkan. Seluruh transaksi tersebut terjadi dalam sekitar 3,7 juta kali transaksi di pasar reguler.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai catatan, perdagangan pasar keuangan Indonesia pada pekan ini terbilang lebih singkat dari biasanya. Bursa hanya akan dibuka selama empat hari karena adanya libur Isra Mi’raj pada Jumat mendatang.
Dengan waktu perdagangan yang terbatas, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi. Fokus investor kini tertuju pada sejumlah sentimen global dan regional yang dinilai krusial.
Salah satu sentimen utama adalah penantian rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pekan depan. Selain itu, pergerakan harga komoditas global yang terus naik juga menjadi perhatian pasar.
Saat ini, pelaku pasar berangkat dari estimasi sementara bahwa inflasi AS berada di kisaran 2,7 persen secara tahunan di akhir 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang sempat berada di atas 3 persen.
Perlu dicatat, angka tersebut belum merupakan rilis resmi Indeks Harga Konsumen atau CPI Desember. Estimasi tersebut disusun berdasarkan data terakhir yang tersedia.
Hal ini terjadi karena Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau BLS tidak mengumpulkan data pada Oktober 2025 akibat government shutdown. Selain itu, data bulanan untuk November juga tidak dirilis secara resmi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!