Matematikawan Korsel Berhasil Pecahkan Teka-teki Matematika Berusia 60 Tahun
📅 Senin, 05 Jan 2026, 17:40 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: THE KOREA HERALD/ASIA NEWS NETWORK
SEOUL - Seorang matematikawan Korea Selatan telah meraih pengakuan internasional karena berhasil memecahkan teka-teki geometri yang selama hampir enam dekade tak terpecahkan.
Majalah Scientific American menobatkan penelitian Dr Baek Jin-eon sebagai salah satu dari 10 terobosan matematika terbaik tahun 2025, demikian menurut komunitas matematika pada Minggu (4/1).
Dr Baek, 31 tahun, adalah seorang peneliti di Pusat Tantangan Matematika June E Huh di Institut Studi Lanjutan Korea (KIAS).
Yang disebut masalah sofa bergerak adalah seberapa besar bentuk kaku yang masih bisa melewati sudut siku-siku di koridor berbentuk L dengan lebar konstan 1 meter.
Pertama kali diajukan pada tahun 1966 oleh matematikawan Austria-Kanada, Leo Moser, teka-teki ini menjadi terkenal karena dapat dipahami tanpa matematika tingkat lanjut dan telah muncul dalam buku teks AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selama beberapa dekade, para peneliti mengusulkan bentuk-bentuk yang semakin efisien sambil mempersempit rentang solusi yang mungkin, tetapi tidak mampu membuktikan di mana batas atasnya berada.
Pada tahun 1968, matematikawan Inggris, John Hammersley, memperkenalkan sebuah bentuk dengan luas sekitar 2,2074 meter persegi.
Pada tahun 1992, profesor Universitas Rutgers, Joseph Gerver, mengusulkan bentuk lengkung yang lebih kompleks dengan luas sekitar 2,2195 m2, yang kemudian menjadi kandidat utama.
Meskipun desain Dr Gerver muncul sebagai kandidat terdepan, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa bentuk yang lebih besar tidak mungkin dibuat.
Karya Dr Baek bertujuan untuk menyelesaikan pertanyaan tersebut. Setelah tujuh tahun melakukan penelitian, ia merilis makalah setebal 119 halaman pada akhir tahun 2024 di server pracetak arXiv, dengan berargumen bahwa angka yang diberikan Dr Gerver mewakili batas atas yang pasti.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang sangat bergantung pada perkiraan berbasis komputer, Dr Baek menggunakan penalaran logis untuk menetapkan optimalitas.
Saat menjelaskan proses penelitian, ia membandingkannya dengan berulang kali membangun dan membuang ide.
“Anda terus berpegang pada harapan, lalu menghancurkannya, dan bergerak maju dengan mengambil ide-ide dari puing-puingnya,” kata dia dalam sebuah sesi wawancara dengan majalah daring yang diterbitkan oleh KIAS.
“Secara alami, saya lebih cenderung menjadi seorang pemimpi, dan bagi saya, penelitian matematika adalah pengulangan dari bermimpi dan bangun,” imbuh dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!