IHSG Pamit dari 2025 dengan Nada Optimistis, Indeks menguat di level 8.646,94
📅 Selasa, 30 Des 2025, 18:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Bayu Pratama S.
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sepanjang 2025 dengan catatan manis. Bertengger di level 8.646,94, pasar saham Indonesia mengakhiri tahun dengan nada optimistis, mencerminkan kembalinya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan domestik.
Penguatan IHSG tak lepas dari sentimen global yang mulai bersahabat. Tren pemangkasan suku bunga, baik di tingkat global maupun domestik, memberi ruang bernapas bagi pasar. Biaya dana yang lebih rendah mendorong investor untuk kembali mengambil risiko, terutama dengan melirik pasar negara berkembang yang dinilai menawarkan potensi imbal hasil lebih menarik.
Dalam konteks ini, Indonesia masuk radar investor. Stabilitas makroekonomi, inflasi yang relatif terjaga, serta prospek pertumbuhan yang solid membuat pasar saham domestik menjadi tujuan aliran dana. Risk appetite yang meningkat terlihat dari penguatan indeks secara bertahap, seiring masuknya dana asing dan kembalinya minat investor domestik.
Secara analitis, penutupan IHSG di level tinggi ini juga mencerminkan ekspektasi ke depan. Pasar tidak hanya merespons kondisi saat ini, tetapi juga membaca peluang di 2026, ketika kebijakan moneter yang lebih longgar diharapkan mampu menopang ekspansi sektor riil dan kinerja emiten.
Menutup 2025 dengan performa positif, IHSG memberi sinyal bahwa pasar saham kembali menjadi ruang optimisme. Tantangannya kini adalah menjaga momentum, agar sentimen yang sudah terbangun tak sekadar menjadi euforia akhir tahun, melainkan fondasi yang berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (30/12) sore atau bertepatan dengan hari terakhir perdagangan Bursa Tahun 2025, ditutup menguat.
IHSG ditutup menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 5,47 poin atau 0,64 persen ke posisi 846,57.
"Penguatan IHSG di akhir 2025 didorong oleh sentimen tren pemangkasan suku bunga global dan domestik, sehingga meningkatkan risk apetite investor untuk mulai masuk ke emerging market," ujar Analis Pasar Modal Indonesia Reydi Octa di Jakarta, Selasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, menurut Reydi, kinerja perusahaan tercatat (emiten) yang relatif solid, terutama untuk saham big cap, menopang IHSG.
"Window dressing juga meningkatkan transaksi di akhir tahun," ujar Reydi.
Pada tahun 2026, Reydi mengatakan arah suku bunga menjadi perhatian investor, isu geopolitik, serta pertumbuhan ekonomi global dan domestik.
Selain itu, kinerja emiten big cap, dan inflow asing yang masif (sejak kepemilikan investor asing menjadi minoritas di IHSG) akan menjadi penentu arah IHSG.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG bergerak ke zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat yaitu dipimpin sektor infrastruktur yang naik sebesar 2,30 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen non primer dan sektor industri yang naik masing-masing sebesar 2,12 persen dan 0,71 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!