IHSG Hari Ini Tersungkur 0,68 Persen, Rupiah dan Risiko Global Jadi Biang Kerok
📅 Kamis, 18 Des 2025, 17:33 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah seiring meningkatnya tekanan di pasar keuangan domestik akibat pelemahan rupiah.
Ketidakpastian global, terutama terkait arah kebijakan ekonomi negara maju dan volatilitas pasar keuangan internasional, mendorong pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati.
Tekanan nilai tukar memicu aksi jual pada saham-saham sensitif terhadap kurs, mencerminkan transmisi sentimen global yang masih membayangi pergerakan pasar modal domestik.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam perdagangan, Kamis (18/12) sore, ditutup melemah 59,14 poin atau 0,68 persen ke posisi 8.618,19.
Sejalan dengan itu, indeks 45 saham unggulan atau LQ45 turun 0,85 poin atau 0,10 persen ke level 851,72.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam laporan analisanya di Jakarta, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai pelemahan IHSG antara lain dipicu oleh nilai tukar rupiah yang cenderung melemah dalam beberapa hari terakhir.
Padahal, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dipertahankan di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (17/12).
"Meningkatnya ketidakpastian global serta minimnya sentimen positif baru yang kuat, juga mendorong pelemahan indeks," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada perdagangan spot, rupiah kembali melemah ke level Rp16.723 per dolar AS, di tengah penguatan indeks dolar AS dan pergerakan mata uang Asia yang ditutup variatif.
Dari sisi sektoral, saham-saham consumer cyclical mencatat koreksi terdalam, sementara sektor noncyclical membukukan kenaikan tipis.
Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menguji area support 8.550-8.600.
Pelaku pasar juga mencermati hasil pertemuan Bank of Japan yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75 persen.
Ini menjadi level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.
"Jika perkiraan ini benar terjadi, ada potensi akan meningkatkan volatilitas saham dan mata uang di pasar global karena ada kemungkinan terjadinya pembalikan aliran dana investor di pasar global ke Jepang dalam jangka pendek," kata Ratna.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!