BP3MI Aceh Antisipasi Migrasi Ilegal Pekerja Migran Pascabencana
📅 Kamis, 18 Des 2025, 16:47 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/Syifa Yulinnas
BANDA ACEH -- Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh mengantisipasi keberangkatan ilegal pekerja migran pascabencana banjir bandang dan tanah longsor Aceh yang rawan dimanfaatkan calo, salah satunya mengintensifkan pelatihan peningkatan kapasitas calon pekerja, khususnya penyintas.
Kepala BP3MI Aceh, Siti Rolijah, di Banda Aceh, Kamis, mengatakan bahwa setiap pascabencana selalu muncul potensi pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi sulit masyarakat untuk menawarkan pekerjaan migran secara ilegal.
“Kami nanti antisipasi agar jangan sampai terjadi ada pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi kesulitan masyarakat, terutama dalam hal kesulitan mendapat pekerjaan, kemudian memilih jalan pintas bekerja ke luar negeri secara nonprosedural,” kata Siti Rolijah.
Siti menilai, kondisi tersebut harus diantisipasi secara serius oleh pemerintah agar masyarakat tidak terjebak pada jalur non-prosedural.
BP3MI Aceh, kata dia, telah mengusulkan alokasi khusus pelatihan bagi warga Aceh pada 2026 mendatang.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya mengajukan ada 1.000 orang yang kami alokasikan untuk warga Aceh dapat fasilitas pelatihan peningkatan kapasitas pekerjaan migran Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan, BP3MI Aceh bakal melakukan pemetaan bersama dinas ketenagakerjaan kabupaten/kota serta aparatur desa guna mencegah risiko lanjutan bagi korban bencana.
“Jangan sampai mereka yang menjadi korban bencana, kemudian menjadi korban kemanusiaan lagi dalam hal perdagangan manusia,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tak hanya itu, Siti kembali mengingatkan bahwa bekerja ke luar negeri secara ilegal sangat berbahaya karena tidak berada dalam pengawasan negara.
“Bahayanya, pemerintah tidak dapat mengawasi secara detail dan paripurna, karena itu kami mengimbau semua harus masuk pada sistem penempatan pekerjaan negara Indonesia yang terencana dan sesuai prosedur,” ujarnya.
Ia menyebutkan, pekerja migran yang tidak terdata berisiko mengalami eksploitasi, penipuan, hingga tindak pidana perdagangan orang.
Sebagai langkah konkret, lanjut dia, BP3MI Aceh telah menginventarisasi sekitar 120 warga yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan serta memastikan kondisi mereka pascabencana.
Selain itu, pihaknya juga mendata calon pekerja migran yang terdampak banjir dan gempa untuk diajukan mendapatkan perhatian khusus dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
“Kami mengajukan secara resmi bersurat kepada Bapak Menteri untuk mendapat perhatian, terutama calon pekerja migran yang sudah berproses kemudian terkena dampak banjir,” demikian Siti Rolijah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!