Wamendukbangga: Lima Tahun ke Depan Periode Krusial dalam Memanfaatkan Bonus Demografi
📅 Senin, 15 Des 2025, 23:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA- Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengingatkan bahwa beberapa tahun ke depan merupakan periode krusial bagi ledakan penduduk usia produktif di Indonesia. Karena itu kesempatan ini harus benar benar dimanfaatkan agar tidak kehilangan momentum.
"Lima tahun ke depan akan menjadi periode krusial bagi upaya kita dalam memanfaatkan bonus demografi, memperkuat kualitas keluarga, serta menyiapkan masyarakat menghadapi era penuaan penduduk,"ungkap Wamendukbangga dalam acara Laporan Kependudukan Indonesia (LKI) Tahun 2025 menyajikan analisis nasional terhadap dinamika kependudukan teraktual yang dirilis Kemendukbangga/BKKBN, di Jakartaz Senin (15/12).
Adapun laporan ini menyoroti dinamika utama kependudukan nasional melalui lima pilar pembangunan kependudukan, serta analisis mendalam mengenai isu lansia yang menjadi fokus utama tahun ini.
Saat ini Indonesia telah memasuki aging population di mana penduduk lansia di atas 60 tahun sudah mencapai 12 persen. BPS (Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024) memproyeksikan jumlah penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 65,82 Juta jiwa pada tahun 2045. Apabila penduduk lansia dapat menjaga kesehatan dan tetap produktif, Indonesia berpotensi untuk meraih bonus demografi kedua.
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Dr. Eng. Bonivasius Prasetya Ichtiarto menjelaskan bahwa Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) merupakan kerangka strategis yang menjadi arah kebijakan pembangunan kependudukan Indonesia, yang didukung oleh Laporan Kependudukan Indonesia (LKI) sebagai sumber analisis situasi dan kondisi kependudukan, Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK) sebagai alat ukur capaian keberhasilan pembangunan sesuai tujuan dan indikator PJPK, serta Indeks Kepedulian terhadap Isu Kependudukan (IKIK) sebagai pengukur tingkat komitmen dan kepedulian pemangku kepentingan dalam mengarusutamakan isu kependudukan ke dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketiga instrumen tersebut saling melengkapi, sehingga diharapkan mampu mendorong terwujudnya pembangunan berwawasan kependudukan yang lebih terintegrasi, adaptif terhadap dinamika demografi, serta berkontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas penduduk dan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan.
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan, Prof. Anwar Sanusi menyampaikan pada Februari 2025 sebanyak 145,77 juta penduduk Indonesia bekerja. Jumlah ini meningkat 3,59 juta penduduk dibanding Februari 2024.
“Visi baru pembangunan ketenagakerjaan di antaranya menyiapkan talenta untuk hadapi disrupsi sektor hilirisasi, ekonomi hijau, dan digitalisasi; menjamin pekerjaan layak dan perlindungan sosial termasuk bagi kelompok rentan (disabilitas, perempuan, pekerja platform); dan membangun ekosistem tangguh dengan revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK), Sistem informasi pasar kerja (SiapKerja) dan dialog sosial yang dinamis,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital, Dr. Ir. Bonifasius Wahyu Pudjianto yang juga menjadi pembicara pada diskusi panel tersebut menjelaskan program BPSDM Komdigi sebagai langkah optimalisasi Bonus Demografi. “Program BPSDM meliputi literasi digital; Digital Talent Scholarship yang bisa diikuti oleh para profesional dan ASN, pelajar, lulusan baru, masyarakat umum; Sertifikasi nasional berbasis SKKNI (BNSP) dan sertifikasi global dari berbagai mitra teknologi sebagai nilai tambah untuk meningkatkan kesempatan kerja di tingkat nasional maupun internasional; Talent Pool Diploy yang dirancang untuk "link and match" antara lulusan pelatihan Digital Talent Scholarship (DTS) dengan para talent seeker, seperti perusahaan, startup, dan institusi yang membutuhkan talenta digital; dan Digital Leadership Akademi,” imbuh Bonifasius.
Bonus Demografi Kedua
Terakhir, Deputi Bidang Statistik Sosial, Badan Pusat Statistik Dr. Ateng Hartono menjelaskan peluang terjadinya bonus demografi kedua saat memasuki aging population apabila pada periode bonus demografi pertama penduduk usia produktif mampu meningkatkan produktivitasnya, dan di saat yang sama melakukan belanja dan investasi sehingga memicu pertumbuhan ekonomi.
“Akumulasi aset yang dilakukan oleh penduduk saat usia produktif akan memberikan pengaruh positif bagi pertumbuhan ekonomi bila akumulasi aset tersebut diinvestasikan untuk pembangunan nasional. Dengan demikian, kondisi aging population justru dapat memberikan keuntungan ekonomi. Ini disebut bonus demografi kedua,” tutupnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!