IHSG Coba Bangkit, Tapi Pasar Masih Menahan Nafas
📅 Senin, 15 Des 2025, 23:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Fauzan.
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi berbalik menguat secara terbatas setelah tekanan di awal pekan, mencerminkan upaya pasar melakukan konsolidasi teknikal.
Meski demikian, ruang penguatan diperkirakan tetap sempit karena pelaku pasar masih bersikap hati-hati terhadap sentimen eksternal, terutama arah kebijakan moneter global dan dinamika pasar keuangan internasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rebound IHSG lebih bersifat selektif, sambil menunggu kepastian katalis yang mampu memperkuat kepercayaan investor.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat potensi penguatan IHSG pada hari kedua pekan ini meskipun bersifat terbatas.
Namun, pergerakan indeks diperkirakan tetap dibayangi kehati-hatian pelaku pasar terhadap sejumlah sentimen eksternal, seperti peningkatan tensi geopolitik global dan rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS).
Sebaiknya Anda baca juga:
Karenanya, Herditya memproyeksikan IHSG dalam perdagangan, Selasa (16/12), bergerak menguat terbatas dengan level support di 8.635 dan resistance di 8.694.
Sebelumnya, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan, Senin (15/12) sore, ditutup melemah 10,83 poin atau 0,13 persen dari akhir pekan lalu menjadi 8.649,66.
Pergerakan IHSG berlangsung fluktuatif, sempat berada di teritori negatif pada awal sesi sebelum menguat, namun kembali melemah hingga penutupan. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 justru ditutup menguat 4,5 poin atau 0,53 persen ke posisi 852,86.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/12), Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pelemahan IHSG terjadi di tengah rotasi pilihan saham investor dari saham konglomerasi ke saham-saham blue chip, terutama sektor perbankan, yang sempat mendorong IHSG bergerak di zona positif.
Meski demikian, tekanan eksternal dan pelemahan nilai tukar rupiah menahan penguatan lanjutan.
"Rupiah ditutup melemah di Rp16,667/ dolar AS di pasar spot (15/12). Saham sektor energi mencatatkan pelemahan terbesar, sedangkan saham sektor kesehatan membukukan penguatan terbesar," ujarnya.
Ratna memproyeksikan IHSG ke depan akan bergerak cenderung sideways di kisaran 8.600-8.750, seiring pelaku pasar masih mencermati sentimen global dan domestik.
Dari kawasan Asia, mayoritas indeks bursa ditutup melemah seiring perhatian investor terhadap data ekonomi Tiongkok.
Data industrial production Tiongkok pada November tercatat melambat menjadi 4,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari 4,9 persen yoy pada Oktober 2025, serta berada di bawah perkiraan 5,4 persen yoy.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!