Penyakit Autoimun Meningkat: Perempuan Paling Berisiko Mengalaminya, Begini Penjelasan Dokter
📅 Kamis, 11 Des 2025, 20:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Primaya Hospital Bekasi Barat
JAKARTA - Penyakit autoimun kini menjadi salah satu isu kesehatan yang terus meningkat secara global. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penderita penyakit autoimun ini diperkirakan lebih dari 2,5 juta orang. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi, justru menyerang sel dan jaringan sehat.
Hingga saat ini, lebih dari 100 jenis penyakit autoimun telah teridentifikasi. Sebagian diantaranya menyerang organ tertentu, sementara sebagian lainnya bersifat sistemik dan mempengaruhi berbagai organ tubuh sekaligus, termasuk kulit, sendi, paru-paru, usus, saraf, dan kelenjar tiroid.
“Penyakit autoimun tidak muncul begitu saja. Penyebabnya sangat beragam dan sering kali merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, serta kondisi tubuh seseorang,” ujar dr. Syahrizal, Sp.PD, Subsp.A.I (K), D, Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Alergi Imunologi (Autoimmune) Primaya Hospital Bekasi Barat, melalui siaran pers pada hari Kamis (11/12).
Resiko autoimun diketahui lebih tinggi pada perempuan usia produktif, terutama bila terdapat riwayat keluarga dengan penyakit autoimun. Beberapa faktor lain juga dapat ikut berperan, seperti infeksi dan stress yang berlangsung berkepanjangan, ketidakseimbangan hormon, serta paparan polusi atau zat kimia tertentu termasuk asap rokok.
“Selain itu, pola makan yang kurang seimbang dan gaya hidup yang tidak sehat dapat memperburuk respons sistem imun dan memicu peradangan dalam tubuh,” ungkapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tanda dan Gejala Autoimun
Tanda-tanda autoimun bisa sangat berbeda pada setiap orang karena penyakit ini dapat menyerang organ tubuh yang berbeda. Namun, beberapa keluhan yang paling sering muncul antara lain kelelahan berat yang tidak kunjung pulih, nyeri atau bengkak pada sendi, ruam kulit atau sensitivitas berlebihan terhadap sinar matahari, gangguan pencernaan yang berulang, serta demam berulang tanpa penyebab yang jelas.
Ia menegaskan, sering kali, gejala-gejala tersebut kerap dianggap keluhan kesehatan biasa sehingga banyak pasien datang ketika kondisinya sudah kronis. Mengenali gejala sejak dini memiliki peran besar dalam keberhasilan penanganan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Apabila seseorang mulai merasakan keluhan tersebut, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter. Proses diagnosis idealnya dilakukan oleh dokter yang memiliki keahlian untuk menangani penyakit autoimun, melalui serangkaian tahapan mulai dari evaluasi riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, penilaian gejala, pemeriksaan fisik menyeluruh, hingga pemeriksaan laboratorium dan tes penunjang lainnya,” ujarnya.
Perempuan Lebih Beresiko
Menurut dr. Syahrizal, penyakit autoimun paling banyak ditemukan pada perempuan usia 15–44 tahun. Data dari Global Autoimmune Institute, 2024 menunjukkan bahwa sekitar 78% dari individu yang mengidap autoimun adalah perempuan.
Kecenderungan ini diyakini kuat terkait dengan perbedaan biologis antar gender, termasuk keberadaan kromosom X tambahan, fluktuasi hormonal (khususnya estrogen), fungsi reproduksi, respons imun yang berbeda.
Jika tidak dikendalikan, penyakit autoimun pada dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari kerusakan organ permanen (misalnya ginjal pada lupus atau saraf pada multiple sclerosis), peningkatan risiko penyakit jantung, hingga gangguan kehamilan seperti keguguran.
“Dampak psikologis juga tidak dapat diabaikan banyak pasien menghadapi kecemasan, depresi, dan penurunan kualitas hidup,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!