Jeritan Ibu Bumi: Hai, Anak Muda Jangan Membisa, Aku Perlu Kamu
📅 Rabu, 10 Des 2025, 19:15 WIB | Oleh: Aloysius WidiyatmakaSemangat anak muda merawat bumi
Mereka menanam lebih dari 2.000 benih bakau. Bayangkan andai tiap perusahaan, katakanlah, 100 perusahaan saja, di mana tiap perusahaan menanm 2.000 bibit pohon, akan ada 200.000 pohon baru. Sayang, masih belum banyak perusahaan yang siap darling. BDLF telah memberi tuntunan dan rintisan, yang lain tinggal menjadi followers, jalan sudah ditunjukkan.
Siap Darling juga dilakukan pramuka dari Pantai Jawa Timur yang menggelar aksi bakti lingkungan menanam bakau di kawasan Pantai Cengkrong, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Peningkatan Wawasan Kebangsaan dan Bakti Masyarakat Tahap II Tahun 2025. Dorongan bahkan diberikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan hadir langsung dalam kegiatan itu. “Aksi penanaman tiga ribu mangrove oleh anggota Pramuka Jatim menunjukkan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendukung target net-zero emission 2060,” tandas Khofifah.
Dia bergembira karena setiap kali datang ke berbagai titik, selalu bertemu Pramuka yang menanam mangrove. “Ini bagian dari penguatan kesadaran lingkungan sekaligus kepedulian sosial," katanya. Khofifah menyampaikan rencana pelaksanaan Festival Mangrove pada tanggal 22 Desember 2025. Festival ini akan melibatkan musisi Kaka Slank dan komunitas pecinta lingkungan untuk memperluas partisipasi publik dalam konservasi pesisir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Catatan Kritis
Langkah menanam berbagai bibit pepohonan sangatlah bagus. Namun, perlu diberi catatan kritis. Tidak boleh hanya menanam. Menanam itu mudah karena hanya sekali tindakan. Terpenting adalah tindakan setelahnya untuk merawat bibit yang ditanam. Bibit ditanam saja akan mati, tanpa dirawat. Itulah kebanyakan organisasi, lembaga, perusahaan, dan bahkan kantor-kantor pemerintah. Mereka hanya mengejar seremoni saat menanam untuk lipstick bahwa lembaganya mencintai lingkungan.
Padahal tanaman yang ditanam seminggu kemudian mati semua karena tak dirawat. Jadi, jangan hanya menanam, tetapi juga mau merawat. Kalau tidak mau merawat, jangan menanam. Sayang benihnya mati semua. Jangan hanya sekali mengajak kelompok muda. Mereka harus beberapa kali diajak kembali, untuk menginternalisasikan tradisi menanam (dan merawat tentunya) ke dalam diri mereka, sehingga akan mendarah daging: tanpa diajak kelak menjadi tradisi di dalam kehidupan sehari-hari. Mereka akan menanam terus. aloysius widiyatmaka
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!