Hiu Paus Terdampar di Pantai Pasir Puncu Purworejo
📅 Selasa, 09 Des 2025, 22:35 WIB | Oleh: OnesBerdasarkan pemeriksaan fisik eksternal, tidak ditemukan luka signifikan pada tubuh hiu paus selain bekas luka melepuh pada ekor bagian bawah.
“Secara umum, kondisinya sudah kode 3 artinya bangkai mulai membusuk (moderate decomposition). Diperkirakan hiu paus ini mati lebih dari 24 jam. Namun, masih dapat dilakukan nekropsi meskipun banyak jaringan yang diduga sudah mengalami autolisis," ujar Dwi.
Demikian juga hasil pemeriksaan organ dalam tubuh hiu paus secara makroskopis, tidak ditemukan adanya tanda-tanda mencurigakan. Namun, saat membuka bagian lambung, ditemukan penuh makanan berupa kumpulan udang kecil (udang rebon) dan belum tercerna.
Untuk memastikannya, Dwi mengambil sampel isi lambung tersebut untuk dilakukan kimia analisis dan/atau uji toksikologi, sebab kecenderungan sementara kematian hiu paus ini terindikasi ke arah toksikasi. Namun untuk lebih lanjut masih menunggu hasil pengujian laboratorium.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan data LPSPL Serang Wilker Yogyakarta, selama kurun waktu tiga tahun terakhir (2022-2025), tercatat sebanyak 24 kali antara lain 2 Pandeglang, 1 Lebak, 7 Ciilacap, 4 Kebumen, 4 Kulonprogo, 1 Bantul, dan 3 Purworejo.
“Data kami menunjukkan hiu paus terdampar dominasi terjadi pada bulan September hingga Februari dengan puncak jumlah tertinggi pada bulan Oktober dan November, meskipun juga beberapa terjadi di bulan Juni dan Agustus,” kata LPSPL Serang Wilker Yogyakarta, Budi Raharjo.
Menurutnya, keterdamparan hiu paus sebagai megafauna juga dapat dikaitkan dengan keterdamparan mamalia laut dimana pada tahun 2025 telah terjadi 4 kali.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Purworejo, Wiyoto Harjono, mengatakan, hingga saat ini sudah terjadi empat kejadian, termasuk di Pantai Pasir Puncu ini.
Menurutnya, penyebab pasti kematian hiu paus masih memerlukan kajian ilmiah lanjutan. Namun, faktor lingkungan dapat berperan besar.
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Mochamad Iqbal Herwata Putra mengatakan, berdasarkan publikasi terkait ‘Satu dekade hiu paus terdampar di Indonesia’, menunjukkan peningkatan kejadian keterdamparan hiu paus selama lima tahun terakhir ini, dan selatan Jawa menjadi pusat dari kejadian-kejadian hiu paus terdampar ini.
“Wilayah selatan Jawa menjadi pusat keterdamparan hiu paus, terutama pada periode puncaknya di kuartal empat setiap tahun. Pada periode ini, terjadi fenomena oseanografi berupa upwelling yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan produktivitas perairan, sehingga menarik hiu paus untuk mencari makan,” kata Iqbal.
Namun di sisi lain, lanjut Iqbal, perubahan iklim dapat menggeser distribusi mangsa hiu paus, memicu cuaca tidak menentu, angin kencang, dan gelombang tinggi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan hiu paus.
“Karena itu, informasi mengenai waktu dan lokasi yang kami identifikasi dalam studi ini dapat menjadi panduan bagi pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan merespons kejadian keterdamparan secara lebih efektif.” bebernya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!