Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Saatnya Menata Ruang Berdasarkan Ilmu Tanah demi Masa Depan yang Berkelanjutan

📅 Sabtu, 06 Des 2025, 18:47 WIB | Oleh: Tim Penulis

Kedua, penurunan kemampuan tanah menahan air ini, terutama disebabkan oleh sifat fisik tanah yang sudah menurun. Bahan organik yang berfungsi sebagai bahan perekat tanah telah hilang.

Tanah dengan kandungan C-organik kurang 2 persen sudah sangat rendah kualitasnya, bahkan para pakar ilmu tanah menyebutnya sebagai tanah sakit. Hasil pemetaan C organik secara nasional menunjukkan lebih dari 60 persen lahan pertanian Indonesia memiliki C organik kurang 2 persen (BRMP, Kementan).

Penurunan kandungan bahan organik tanah ini disebabkan berbagai hal. Pertama, eksploitasi tanah secara berlebihan, tanpa adanya upaya konservasi terjadi di berbagai subsektor penggunaan lahan.

Kedua, terjadi alih fungsi lahan dari lahan bervegetasi rapat, seperti hutan menjadi lahan lebih terbuka, tegalan/ladang/huma tanpa konservasi. Vegetasi hutan ini bila tidak dikelola dengan baik akan kehilangan 30-70 persen bahan organiknya dalam kurun 20-50 tahun ke depan.

Data BPS menyebutkan dalam periode 2014-2023, secara umum terjadi penyusutan hutan, dan peningkatan non-hutan terutama perkebunan dan permukiman.

Global Forest Watch (2020–2024) mendata pada tahun 2020, hutan alam masih sekitar 94 juta ha atau hampir 50 persen luas daratan Indonesia, namun pada tahun 2024 hilang hingga 260 ribu ha, dan meningkatkan emisi sebesar 190 MtCO₂. Interaktif menunjukkan terjadi pergeseran dari hutan ke pertanian, terutama perkebunan.

Dalam kurun waktu tujuh tahun (2015-2022), data KLHK menyebutkan terjadi penyusutan hutan, terluas di Aceh 0,7 juta hektare, sedangkan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat masing-masing 39.864 ha dan 25.435 ha.

Demikian juga dengan badan air terjadi penyusutan terluas di Sumatera Utara 151.741 ha, diikuti Aceh 69.798 ha. Di sisi lain terdapat penambahan luas permukiman, di Sumatera Barat mencapai 401.843 ha, penambahan perkebunan di Aceh 573.020 ha dan penambangan 151.254 ha di Aceh.

Ketiga, minimnya pengembalian bahan organik ke tanah, seperti jerami yang seharusnya menjadi milik tanah setelah diambil hasilnya. Namun perkembangan teknologi dan tuntutan kebutuhan dewasa ini, banyak sekali jerami diangkut ke luar lahan untuk dimanfaatkan menjadi produk lain, sehingga bahan organik tanah, terutama lahan sawah, semakin terdegradasi.

Keempat, terjadinya pemadatan tanah disebabkan penggunaan alat berat dan pengolahan lahan yang buruk. Hamza & Anderson (2005) melaporkan pemadatan tanah sekitar 0.5 g/cm3 akan menurunkan infiltrasi hingga 60 persen. Kelima, erosi dan kehilangan lapisan atas tanah (topsoil) yang menyimpan 50-90 persen bahan organik.

Kehilangan 1 cm topsoil berarti menghilangkan 100-200 ton tanah/ha dan menurunkan water holding capasity hingga 12 persen (Morgan, 2009).

Inilah yang paling ditakutkan para ilmuwan tanah, terkikisnya tanah akibat eksploitasi berlebih di lahan hutan, aktivitas penambangan, lahan-lahan dengan kemiringan tinggi, yang sangat membahayakan keberlanjutan sumber daya.

Bencana dipicu tanah yang tidak lagi sehat. BMKG melaporkan bahwa intensitas hujan ekstrem meningkat 20–30 persen dalam 10 tahun terakhir. Namun, curah hujan tinggi tidak otomatis menyebabkan bencana, jika tanah masih sehat. Persoalannya terletak pada kemampuan tanah menahan air yang kini menurun drastis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

  • Rambut Tipis dan Mudah Lepek? Kini Ada Solusi dengan Formula Ultra Ringan
    Preview komentar:
    Keluhan BRI QLola
    Untuk membuka blokir QLola IB Token, Anda dapat ...
  • PM Pakistan Sebut Kesepakatan AS-Iran Berlaku “Segera” Setelah Kedua Pihak Menandatanganinya
    Preview komentar:
    Untuk membuka blokir QLola IB Token, Anda dapat ...
    Bagaimana cara menghubungi BRI QLola?
  • Pemkot Bandung Bongkar 174 Bangunan Liar di Jalan Terusan Pasirkoja
    Preview komentar:
    Parkir liar gimana nihhh dijalan kebon jati,, itu ...
Jakarta Fair 2026 Banjir Diskon Helm hingga 50 Persen, Ini Daftar Merek dan Promonya

Jakarta Fair 2026 Banjir Diskon Helm hingga 50 Persen, Ini Daftar Merek dan Promonya

18 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.