Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Hari Ini Tertekan, Investor Ramai-Ramai Berburu Dolar

📅 Kamis, 18 Jun 2026, 16:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Hari Ini Tertekan, Investor Ramai-Ramai Berburu Dolar Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto
Ket. Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta.

JAKARTA – Pelemahan rupiah mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang mendorong investor cenderung mengalihkan dana ke aset-aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

Ketegangan geopolitik, potensi gangguan rantai pasok, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia meningkatkan volatilitas pasar keuangan dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal dibandingkan faktor fundamental domestik.

Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (18/6) sore melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.794 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.762 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

"Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global mendorong permintaan terhadap aset safe haven, sehingga membatasi potensi penguatan rupiah," ucapnya di Jakarta, Kamis (.

Sentimen lainnya berasal dari penguatan dolar AS yang masih menjadi faktor yang membebani pergerakan mata uang negara berkembang.

Sikap Federal Reserve yang belum memberikan sinyal kuat terkait penurunan suku bunga membuat investor tetap menempatkan dana pada aset berbasis dolar.

Melihat sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026.

Suku bunga deposit facility juga naik 25 bps menjadi 4,75 persen dan suku bunga lending facility naik 25 bps menjadi 6,50 persen.

Menurut dia, bank sentral sebenarnya memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan saat ini sambil mengevaluasi efektivitas langkah tersebut terhadap stabilitas nilai tukar dan aktivitas ekonomi.

Selain itu, laju inflasi tahunan yang tercatat 3,08 persen pada Mei masih dinilai cukup terkendali sehingga belum menimbulkan urgensi bagi BI untuk kembali memperketat kebijakan moneter.

Kendati begitu, bank sentral memutuskan untuk menaikkan suku bunga di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.826 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.753 per dolar AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
  • Indonesia Kantongi 5 Medali Asian Games
    persaingan ketat, mungkinkah kontingen Indonesia bisa masuk 3 ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Ekonomi
RI Dorong ASEAN Tancap Gas ...
Advertisement
Sebelum Mundur dari Kepengurusan Golkar, Nusron Ternyata Diskusi dengan Bahlil

Sebelum Mundur dari Kepengurusan Golkar, Nusron Ternyata Diskusi dengan Bahlil

21 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.