Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Saatnya Menata Ruang Berdasarkan Ilmu Tanah demi Masa Depan yang Berkelanjutan

📅 Sabtu, 06 Des 2025, 18:47 WIB | Oleh: Tim Penulis
Saatnya Menata Ruang Berdasarkan Ilmu Tanah demi Masa Depan yang Berkelanjutan Doc: Antara Foto
Ket. Pengendara sepeda motor melewati jalan bekas longsor yang telah dibersihkan di Kelok 44, Maninjau, Agam, Sumatera Barat, Sabtu (6/12/2025).

Dunia memperingati Hari Tanah Sedunia (World Soil Day) pada 5 Desember 2025, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan Majlis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2014. Saat ini waktu yang tepat untuk merenungkan fenomena alam beberapa hari terakhir.

Banjir bandang, tanah longsor, jalan amblas, penurunan muka air tanah, tanah bergerak dan rentetan bencana lain tidak dapat dipandang sebagai kejadian alam yang berdiri sendiri.

Pada akhir November 2025, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis data peringatan dini cuaca ekstrem, termasuk untuk Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Peringatan dini gawat darurat tersebut merupakan potensi bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi Monsun Asia menjadi pemicu dominasi angin baratan yang membawa suplai massa udara lembab dalam jumlah besar dari Samudera Hindia.

Massa udara lembab bertemu langsung dengan topografi pegunungan di Bukit Barisan, melalui proses orographic lifting yang secara intens meningkatkan potensi pembentukan awan hujan lebat.

Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole negatif serta sektivitas Gelombang Rossby Ekuatorial turut memperkuat peluang pertumbuhan awan konvektif di daerah pesisir dan perbukitan.

Kondisi ini meningkatkan risiko tanah longsor, banjir bandang, genangan luas, angin kencang, petir/kilat. Kondisi ini tanpa basa basi dan sebelum sempat dicerna dan diinformasikan ke masyarakat sudah langsung terjadi seperti yang banyak dilaporkan media nasional dan lokal.

Data terakhir BNPB menyebutkan korban jiwa di tiga provinsi telah mencapai sedikitnya 600 orang meninggal dan lebih dari 200 lainnya masih hilang. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah.

Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) sebagai organisasi profesi beranggotakan pakar dan praktisi ilmu tanah mulai mempromosikan pentingnya menjaga kesehatan tanah untuk kelangsungan peradaban manusia.

Dengan kejadian bencana nasional ini, sekaligus momentum Hari Tanah Sedunia, kita diingatkan kembali bahwa tanah bukan sekadar media tanam, melainkan fondasi ekosistem dan penyangga kehidupan di Bumi.

Ketika tanah kehilangan fungsi hidrologi, fisik, dan biologisnya, maka risiko bencana meningkat dan pembangunan kehilangan pijakan dasarnya.


Kerusakan tanah

Berbagai bentuk kerusakan tanah dapat kita lihat. Pertama, menurunnya kemampuan tanah menahan air. Istilah ini dikenal sebagai water holding capacity (WHC). Fungsi ini paling penting, ketika kemampuan ini menurun, maka tanah tidak cukup mampu menahan air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya segera hilang.

Dalam jumlah banyak memicu banjir, bahkan ikut membawa partikel tanah yang terbuka atau erosi. Laporan BRMP, Kementan menyebutkan selama kurun waktu 2020-2023, sekitar 52 persen daerah aliran sungai di Pulau Jawa mengalami penurunan infiltrasi lebih dari 30 persen. Artinya tanah telah kehilangan kemampuannya menahan air hujan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

35 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.