Saatnya Menata Ruang Berdasarkan Ilmu Tanah demi Masa Depan yang Berkelanjutan
📅 Sabtu, 06 Des 2025, 18:47 WIB | Oleh: Tim PenulisKedua, audit daya dukung dan daya tampung lahan nasional. Hal ini penting untuk memastikan pembangunan sesuai sifat dan kemampuan tanah, menghindari penempatan fasilitas umum pada tanah berisiko, dan mendorong konservasi pada lahan rentan bencana dan kerusakan.
Ketiga, penerapan standar ketat dalam pembukaan lahan. Setiap pembukaan lahan harus memenuhi standar konservasi/terasering pada lahan miring, agroforestry pada wilayah berisiko erosi, larangan membuka lahan di kemiringan besar 40 persen, konservasi vegetatif minimal 30 persen tiap DAS, dan tidak mengganggu kandungan organik pada tanah gambut.
Keempat, integrasi kesehatan tanah sebagai indikator pembangunan nasional. FAO menekankan bahwa kesehatan tanah adalah dasar ketahanan pangan global. Indonesia perlu indikator nasional yang memantau kandungan bahan organik tanah, kestabilan agregat, keragaman mikrobiologi tanah, kapasitas infiltrasi. Indikator ini perlu masuk dalam RPJMN dan kebijakan pangan nasional.
Kelima, larangan tegas pemukiman di bantaran sungai. Bantaran dan sempadan sungai adalah bagian dari sistem hidrologi tanah. Tidak hanya untuk mengalirkan air, tetapi juga untuk meresapkan air ke dalam lapisan tanah. Tanpa ruang sempadan yang cukup, sungai kehilangan kapasitas hidrologisnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Momentum hari tanah
Hari Tanah Sedunia yang diperingati setiap 5 Desember selalu mengingatkan bahwa tanah adalah sumber daya yang lambat pulih, bahkan tidak bisa pulih di sebagiannya.
FAO memperkirakan 40 persen tanah dunia mengalami degradasi sedang hingga berat, termasuk tanah di kawasan tropis yang sangat rentan terhadap kerusakan. Indonesia tidak bisa menunda lagi perbaikan tata kelola tanah.
Jika tidak ada langkah tegas, maka bencana hidrometeorologi akan semakin intens, produktivitas pertanian akan menurun, infrastruktur akan terus mengalami kegagalan, dan jutaan penduduk akan terdampak.
Terakhir, tanah adalah fondasi kehidupan. Negara yang ingin membangun masa depan harus terlebih dahulu menjaga pijakan ekologisnya.
Dalam momentum Hari Tanah Sedunia ini, semua diingatkan bahwa pembangunan tanpa memperhitungkan kemampuan tanah adalah pembangunan yang rapuh.
Sudah saatnya Indonesia menempatkan ilmu tanah sebagai dasar penataan ruang, pembangunan, dan mitigasi bencana. Tanah bukan hanya aset alam, tetapi penyangga kesinambungan kehidupan bangsa.
*) Husnain, PhD adalah Ketua Umum Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!