Hari Guru: Pormadi Simbolon Ajak Mendidik dengan Iman dan Cinta
📅 Senin, 24 Nov 2025, 11:46 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara Foto
Di era media sosial, kita seperti hidup di sebuah panggung tanpa tirai. Unggahan tentang ranking kelas, medali lomba, sertifikat webinar, hingga pencapaian kecil yang dibuat seolah spektakuler, membanjiri lini masa setiap hari.
Anak-anak pun tumbuh dalam budaya "tampil hebat": dunia di mana menjadi yang terbaik dipamerkan, dikomentari, lalu dijadikan tolok ukur nilai diri.
Pertanyaan penting perlu diajukan: apakah benar hidup harus dijalani sebagai ajang pamer keunggulan? Yuval Noah Harari dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa kita tidak dimaksudkan untuk terus-menerus mengalahkan orang lain.
Tujuan hidup bukanlah menjadi yang paling unggul, melainkan melakukan kebaikan itu sendiri. Kita belajar dan berkarya bukan agar tampak "lebih dari yang lain", tetapi agar memberi kontribusi bagi kehidupan bersama.
Dalam konteks pendidikan kita di Indonesia, pesan ini sangat relevan. Budaya kompetisi yang dangkal masih kuat: ranking diagung-agungkan, piala juara dipajang di lobi sekolah, dan keberhasilan murid kerap diukur dari intensitas tampilnya ia dalam foto, spanduk, atau seremoni. Padahal di baliknya, ada persoalan psikologis dan sosial yang kian mengemuka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hilangnya makna
Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa orientasi belajar yang hanya menekankan kompetisi dapat memicu kecemasan, rasa takut gagal, dan hilangnya motivasi intrinsik.
Murid belajar bukan untuk memahami, tetapi untuk menghindari rasa malu. Teman sebaya yang seharusnya menjadi rekan belajar berubah menjadi lawan tak kasatmata yang harus dikalahkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Studi tentang kompetisi sekolah di Amerika Serikat dan Eropa (Himmler, 2009) menyimpulkan bahwa tekanan kompetitif memang dapat menumbuhkan peningkatan akademik di beberapa konteks, tetapi hasilnya kecil, tidak konsisten, dan sering memperlebar ketimpangan.
Sementara tinjauan Cantador dan Conde (2013) terhadap praktik kompetisi di pembelajaran daring menunjukkan fenomena serupa: capaian akademik yang meningkat tidak signifikan, sementara stres belajar meningkat.
Sebaliknya, sejumlah penelitian memperlihatkan hasil yang lebih meyakinkan dari pembelajaran kolaboratif. Laal dan Ghodsi (2012) menemukan bahwa kolaborasi memberikan manfaat sosial, psikologis, akademik, dan penilaian. Penelitian Siller dan Ahmad (2024) terhadap siswa kelas VI menunjukkan bahwa kelompok yang terlibat dalam pembelajaran kolaboratif memiliki prestasi matematika lebih tinggi dibandingkan kelompok yang belajar secara kompetitif.
Temuan Scager dan tim (2016) memperkuat hal itu dengan menunjukkan bahwa kolaborasi menciptakan ketergantungan positif yang meningkatkan hasil belajar dan kesehatan sosial-emosional peserta didik.
Artinya, ketika pendidikan terlalu menonjolkan "siapa pemenangnya", ia bisa kehilangan tujuan dasarnya: menumbuhkan manusia yang berkarakter, matang, dan siap bekerja sama menghadapi tantangan publik.
Menggeser fokus
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!