Babel Jadikan Bangka Selatan Sentra Perkebunan Lada Putih dengan Konsep Ekonomi Hijau
📅 Selasa, 18 Nov 2025, 16:50 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
PANGKALPINANG - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menjadikan Kabupaten Bangka Selatan sebagai sentra perkebunan lada putih untuk meningkatkan produksi komoditas ekspor unggulan dengan konsep ekonomi hijau.
“Kita akan fokuskan pengembangan lada ini di Bangka Selatan,” kata Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Babel Erwin Krisnawinata di Pangkalpinang, kemarin.
Ia mengatakan saat ini kebijakan pertanian dan perkebunan tidak hanya parsial, tetapi harus terintegrasi kepada aspek pengembangan komoditas. Oleh karena itu, seluruh kabupaten di Kepulauan Babel harus memetakan potensi dan menetapkan pengembangan kawasan pertanian tersebut.
“Untuk saat ini baru Desa Air Gegas Kabupaten Bangka Selatan yang memiliki kawasan pengembangan lada putih," ujar dia.
Ia mengatakan luas perkebunan lada putih di Kabupaten Bangka Selatan mencapai 22.961 hektare dengan jumlah pekebun lada 22.829 kepala rumah tangga atau terluas dibandingkan kabupaten lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Luas perkebunan lada di Kabupaten Bangka seluas 6.026 hektare dengan jumlah pekebun 9.575 kepala rumah tangga, Belitung seluas 4.479 hectare dengan jumlah pekebun 10.061 kepala rumah tangga, Bangka Barat seluas 6.242 hektare dengan jumlah pekebun 9.425 kepala keluarga.
Selanjutnya luas perkebunan di Kabupaten Bangka Tengah seluas 3.471 hektare dengan jumlah pekebun 5.655 kepala rumah tangga, Belitung Timur seluas 3.463 hektare dengan jumlah pekebun sebanyak 5.127 kepala keluarga.
"Saat ini produksi lada putih Bangka Belitung kebanyakan berasal dari petani Bangka Selatan dan ini akan terus ditingkatkan melalui perkebunan lada putih secara terpadu," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengembangan perkebunan lada putih itu dilandasi konsep ekonomi hijau untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah itu. "Pertanian lada ini merupakan komoditas unggulan yang mempunyai potensi yang besar dalam pertumbuhan ekonomi daerah ini,” jelas Erwin.
Ia mengatakan, konsep ekonomi hijau "Green Economy" ini mengajarkan kita bahwa bukan sekedar ikut-ikutan mengikuti trend masa kini, tetapi sebuah keniscayaan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan untuk masa depan. “Ekonomi hijau ini merupakan sistem ekonomi yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi sambil menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial masyarakat," ujarnya.
Ia menyatakan, selama beberapa tahun, struktur ekonomi Bangka Belitung masih sangat bergantung pada sektor pertambangan timah. Sektor ini memang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah. Namun di sisi lain, kita tidak dapat menutup mata terhadap tantangan lingkungan, ketimpangan sosial dan ketergantungan ekonomi yang ditimbulkan.
“Kita harus berani melakukan transformasi dan beralih dari ekonomi berbasis ekstraksi sumber daya alam yang tidak terbarukan menuju ekonomi yang menjaga keseimbangan berkonsep green economy," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah dan masyarakat tidak bisa berbicara ekonomi hijau tanpa berbicara tentang kelestarian alam lingkungan. “Konsep ini nyata berfokus pada pentingnya transformasi ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, dan ramah lingkungan, dengan penekanan pada pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!