Pemkot Jaktim: Biogas Komunal Mampu Cegah Penyakit dari BABS
📅 Jumat, 14 Nov 2025, 12:46 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
JAKARTA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) menyebutkan pembangunan instalasi biogas komunal bukan hanya untuk menyediakan energi alternatif bagi warga, tetapi juga menjadi upaya mencegah penyakit akibat perilaku buang air besar sembarangan (BABS).
"Instalasi biogas komunal juga mampu mengatasi pembuangan BAB massal ke kali yang selama ini menimbulkan penyakit dan berpotensi menyebabkan stunting," kata Wakil Walikota Jakarta Timur Kusmanto di Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, Jumat.
Dia mengatakan BABS merupakan salah satu sumber utama pencemaran yang memicu penyakit berbahaya dan turut meningkatkan risiko stunting di wilayah tersebut.
"Jakarta Timur ini stunting-nya cukup tinggi, dan salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat BAB buangnya ke saluran," ujar Kusmanto.
Menurut dia, bakteri dari tinja dapat berkembang biak dengan cepat di aliran kali dan memicu berbagai penyakit infeksi. Terlebih, BABS merupakan masalah kesehatan lingkungan serius di permukiman padat di Jakarta Timur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Limbah tinja yang langsung dibuang ke sungai atau saluran air mengandung bakteri, virus, dan parasit yang dapat menyebabkan diare, infeksi saluran pencernaan, cacingan, penyakit kulit, serta gangguan tumbuh kembang pada anak.
"Bakteri itu berkembang di kali. Kalau dibiarkan, ini bisa menimbulkan penyakit dan jadi penyebab stunting," ucap Kusmanto.
Anak-anak yang sering bermain di sekitar saluran air tercemar pun menjadi kelompok yang paling rentan terpapar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk memutus rantai penyebaran penyakit tersebut, Pemkot Jakarta Timur membangun delapan instalasi biogas komunal. Tiga di antaranya telah beroperasi di Pekayon, Rambutan, dan Bidara Cina.
"Yang tadinya masyarakat buang BAB ke kali, sekarang dibuang ke sistem komunal. Dikumpulkan, ditampung, lalu diolah menjadi energi. Gasnya bisa dipakai memasak, bahkan jadi listrik," jelas Kusmanto.
Dengan sistem tersebut, limbah tinja tidak lagi mencemari sungai, patogen berbahaya dimusnahkan melalui proses pengolahan, dan hasil olahannya berubah menjadi energi bersih yang kembali ke masyarakat.
Teknologi itu terbukti efektif mengurangi potensi penyebaran bakteri penyebab penyakit, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga karena menghemat biaya energi.
Lebih lanjut, dia menuturkan selain pembangunan infrastruktur, Pemkot Jaktim aktif melakukan edukasi dan sosialisasi mengenai bahaya BABS.
Sejumlah kelurahan telah mendeklarasikan Stop BABS atau Open Defecation Free (ODF) yang artinya warga berkomitmen berhenti buang air besar sembarangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!