Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Impor Baja Tiongkok Tinggi, Legislator Serukan Selamatkan Industri Baja Nasional

📅 Kamis, 13 Nov 2025, 22:58 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Impor Baja Tiongkok Tinggi, Legislator Serukan Selamatkan Industri Baja Nasional Doc: istimewa
Ket. Ketergantungan pada baja impor rugikan industri nasional

JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim menyoroti serius kondisi industri baja nasional yang saat ini menghadapi tekanan berat akibat ketergantungan tinggi terhadap impor, terutama dari China. Menurutnya, ketergantungan impor baja sebesar 55 persen itu merupakan alarm untuk merevitalisasi industri baja domestik secara total. 

Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan bahwa sekitar 55 persen kebutuhan baja nasional saat ini dipenuhi dari impor, sementara utilisasi kapasitas pabrik baja dalam negeri baru mencapai 50 persen. Artinya, setengah potensi produksi nasional belum terserap pasar.

“Ini bukan sekadar soal daya saing, tetapi persoalan kedaulatan ekonomi. Bagaimana mungkin kita berbicara industrialisasi jika bahan baku utamanya masih bergantung pada impor?” kata Rivqy dikutip dari laman resmi DPR RI, Kamis (13/11).

Sebagai informasi, industri baja nasional tengah menghadapi kondisi darurat akibat banjir impor. Kementerian Perindustrian menyebut, hal itu disebabkan karena adanya ketimpangan antara kebutuhan dengan produksi baja nasional yang sangat besar.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persoalan ini seperti fakta bahwa negara asal impor baja terbanyak berasal dari China dengan kapasitas produksi baja kasar sebesar 1,005 miliar ton atau 53,3 persen produksi dunia.

Selain banjir impor, tekanan juga berasal dari pengelabuan kode HS, serta lemahnya perlindungan dari praktik perdagangan tidak adil. Ketika banyak negara memperketat tarif dan kuota impor, Indonesia justru dinilai menjadi pasar terbuka yang rentan diserbu limpahan baja murah, terutama dari China.

Berbagai praktik dan hambatan tersebut dinilai mengancam daya saing industri baja dalam negeri yang merupakan sektor strategis dan penopang utama pembangunan nasional.

Tingginya impor baja tersebut juga disebabkan karena produsen nasional hanya berorientasi pada pemenuhan sektor konstruksi dan infrastruktur yang selama ini menjadi pasar utama dari industri tersebut. Padahal, permintaan sektor tersebut tengah menurun, baik di Indonesia maupun global. 

Di satu sisi, terdapat sektor lain yang berpeluang besar untuk meningkatkan permintaan baja nasional, yaitu otomotif, perkapalan, alat berat, dan lain-lain. Selain itu, industri baja dalam negeri juga mengalami tantangan kualitas mesin produksi yang sudah tua. Hal itu juga yang menyebabkan baja nasional tidak dapat berdaya saing. 

Terkait situasi tersebut, Rivqy menilai ada ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dalam negeri dan kebutuhan industri nasional. Ia menyebut, sektor-sektor strategis seperti otomotif, perkapalan, alat berat, dan energi masih mengandalkan baja impor dengan spesifikasi tinggi (special steel) yang belum dapat diproduksi secara massal di dalam negeri.

“Ini menunjukkan bahwa industri baja kita selama ini berjalan tanpa peta jalan yang komprehensif. Fokusnya sempit di konstruksi dan infrastruktur, sementara sektor bernilai tambah tinggi malah dikuasai impor,” sebut Rivqy.

Rivqy menambahkan, lemahnya integrasi rantai pasok dan arah pasar yang tidak jelas menyebabkan potensi industri nasional terhambat. 

“Tanpa intervensi kebijakan yang terukur, pabrik-pabrik baja nasional akan terus beroperasi di bawah kapasitas optimal dan kehilangan daya saing di pasar sendiri,” ungkapnya.

Insentif Fiskal

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.