Tradisi dan Inovasi Jadi Kunci Swasembada Garam di Tanah Rencong
📅 Minggu, 09 Nov 2025, 16:20 WIB | Oleh: Tim PenulisAzhar yang menjadi Ketua Kelompok Sira Lamnga tidak sendiri dalam memenuhi kebutuhan garam di Aceh Besar khususnya.
Ada sekitar 30 bangunan "Jambo Sira" yang berada di area tempat Azhar mengais rupiah. Kepulan asap dan bedeng-bedeng jemur air garam terhampar di kawasan Gampong Lam Ujong.
Usaha garam yang ia lakoni bersama rekan-rekannya pernah mendapat dukungan dari pemerintah kabupaten dan juga pemerintah Provinsi Aceh melalui instansi terkait.
Mereka saat ini sangat berharap adanya "bapak angkat" yang bisa memperbaharui atau meningkatkan sarana pendukung produksi. Terutama saat musim penghujan tiba. Di mana mereka terpaksa menambah biaya produksi karena harus membeli bibit garam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para petani garam yang berjarak sekitar 10 KM dari Banda Aceh itu, berkeinginan memiliki bedeng penampungan representatif dan juga "rumah kaca" tempat penampungan terakhir air sebelum direbus.
Petani garam di Aceh Besar itu berkeyakinan, jika sarana yang ada ada diperbaharui akan mampu meningkatkan produksi dan memenuhi permintaan garam di seluruh Aceh.
Azhar dan petani garam yang ada di Lam Ujong khususnya dan di sentra garam umumnya berkomitmen mendukung program pemerintah swasembada garam. Komitmen itu diperkuat lewat regulasi Perpres 126/2022 tentang Percepatan Pembangunan Industri Garam Nasional guna menghentikan impor garam pada 2027.
Sebaiknya Anda baca juga:
Target tersebut bukan sekadar angka, tetapi simbol kemandirian bangsa maritim.
Produksi garam
Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh menyebutkan produksi garam di provinsi ujung barat Indonesia itu dari Januari hingga Agustus 2025 mencapai 9,44 juta kilogram dari target produksi tahun itu 10,7 juta kilogram.
Produksi garam tersebut tersebar di delapan kabupaten, yakni Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan.
Dari total produksi garam tersebut, yang terbanyak dari Kabupaten Pidie mencapai 4,26 juta kilogram, terdiri 3,78 juta kilogram garam rebus dan 484 ribu kilogram garam jemur.
Disusul Kabupaten Bireuen dengan produksi mencapai 1,92 juta kilogram terdiri 1,82 juta kilogram garam rebus dan 100,7 ribu garam jemur; Kabupaten Pidie Jaya dengan produksi sebanyak 1,23 juta kilogram terdiri 1,22 juta garam rebus dan 12,8 ribu kilogram garam jemur; Kabupaten Aceh Besar dengan produksi 1,05 juta kilogram, terdiri 1 juta kilogram garam rebus dan 47 ribu garam jemur; Kabupaten Aceh Utara dengan produksi 748,4 ribu kilogram, terdiri 702 ribu kilogram garam rebus dam 46 ribu garam jemur; Kabupaten Aceh Timur dengan produksi sebanyak 89.450 kilogram terdiri 83.500 kilogram garam rebus dan 5.950 kilogram garam jemur; Kabupaten Aceh Selatan dengan produksi sebanyak 56.629 kilogram terdiri 49.129 kilogram garam rebus dan 7.500 kilogram garam jemur; Kabupaten Aceh Barat Daya dengan produksi 62.980 kilogram dan semuanya garam rebus.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!