Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Setelah Drakor, Kini Dracin Membuai Layar Digital Indonesia

📅 Rabu, 05 Nov 2025, 16:20 WIB | Oleh:
Setelah Drakor, Kini Dracin Membuai Layar Digital Indonesia Doc: antara foto
Ket. Parade perayaan Cap Gomeh di Semarang, Jawa Tengah.

JAKARTA – Setelah fenomena drama Korea (drakor), kini fenomena micro-drama atau yang populer disebut Drama China (Dracin) pendek, tengah menarik perhatian publik hiburan digital di Indonesia. Konten-konten berdurasi super singkat yang rata-rata hanya tiga hingga delapan menit per episode, bahkan ada yang 60 hingga 120 detik, telah menyedot perhatian publik Indonesia. Dracin makin membuai karena menawarkan jalan cerita yang padat, emosional, dan penuh plot twist.

Kehadirannya tidak lagi sebatas tren iseng, melainkan sebuah mesin bisnis triliunan rupiah yang sangat cerdas. Mengutip data iiMediaResearch, pasar short drama China mencapai nilai fantastis 37,39 miliar yuan (sekitar 5,26 miliar dollar AS) pada tahun 2023, dengan proyeksi melampaui 100 miliar yuan pada 2027.

Asma Nadia Hasuna dkk (2025) dalam publikasi riset bertajuk "Daya Tarik Short Drama China: Fenomena Konsumsi Cepat dalam Perspektif Psikologi Sosial" menilai short drama China memiliki daya tarik kuat yang berasal dari formatnya yang singkat, namun padat secara emosional.

Dalam perspektif psikologi sosial, fenomena ini menunjukkan bagaimana kebutuhan akan kepuasan instan, konformitas terhadap tren media sosial, serta pencarian aktualisasi diri menjadi faktor utama dalam pola konsumsi hiburan modern.

Hal ini selaras dengan salah satu kajian George Ainslie (1975) yang menjelaskan kecenderungan individu memilih hadiah yang lebih kecil, namun segera, daripada hadiah yang lebih besar, tetapi tertunda. Dalam konteks tontonan, penonton modern cenderung memilih drama pendek yang ringkas dan langsung ke inti konflik, meski kualitas alur atau produksinya mungkin lebih rendah, daripada serial konvensional berdurasi panjang.

Strategi menarik perhatian Dracin pun unik. Episode-episode awal disajikan secara gratis di media sosial (TikTok, YouTube Shorts) sebagai hook. Namun, untuk melanjutkan kisah yang sengaja diputus pada titik yang paling memancing, penonton dipaksa beralih ke aplikasi video on demand khusus dan berbayar. Alur cerita cepat, penuh cliffhanger, dan disajikan dalam format vertikal ini dirancang untuk memberikan "dopamin rush", memicu kecanduan untuk menonton terus-menerus (binge-watching).

Kewaspadaan Publik

Kewaspadaan publik harus ditingkatkan karena micro-drama, bukan hanya sekadar produk komersial, melainkan juga instrumen penyebaran nilai.

Dalam ilmu komunikasi, hal ini dianalisis melalui Teori Kultivasi (Cultivation Theory) yang dikembangkan oleh George Gerbner (1967). Teori ini menyatakan bahwa paparan media massa yang berulang dan konsisten, bahkan dalam durasi yang sangat singkat dan sering, akan secara bertahap membentuk (cultivate) persepsi audiens tentang realitas sosial.

Jika masyarakat Indonesia terus-menerus mengonsumsi narasi dramatis yang menampilkan standar kehidupan, moralitas, dan relasi sosial dari Tiongkok, maka secara pasif, nilai-nilai yang ditampilkan dapat dianggap sebagai norma. Meskipun tema yang diangkat ringan (cinta pertama, pertemanan, meraih mimpi), potensi perbedaan budaya tetap ada dan dapat menciptakan akulturasi nilai secara tidak disadari.

Fakta di balik layar memperkuat kekhawatiran ini, produksi micro-drama di China berada di bawah kontrol ketat Pemerintah. Pemerintah China melalui NRTA (Administrasi Radio dan Televisi Nasional) tidak hanya menyensor ribuan seri yang dianggap vulgar, tetapi juga mendorong rumah produksi untuk membuat cerita yang mempromosikan nilai-nilai budaya dan moral yang sesuai dengan agenda mereka. Bahkan, ada rencana untuk membuat konten video pendek yang secara eksplisit menyorot pemikiran politik Xi Jinping sebagai bagian dari strategi soft power.

Ini menandakan bahwa tontonan yang kita nikmati adalah media yang telah disaring dan diarahkan untuk menyebarkan pengaruh budaya dan ideologis Tiongkok ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Mengingat daya tarik micro-drama yang bersifat adiktif (didukung oleh mekanisme psikologis kepuasan instan) serta adanya agenda soft power yang terselip di baliknya, publik perlu segera menyalakan kendali diri (self-control) dan membangun kewaspadaan yang kritis.

Pertama, bahaya nyata terletak pada dampak kognitif dan produktivitas individu. Kecanduan terhadap micro-drama terbukti dapat mengurangi rentang perhatian (attention span) penonton. Kebiasaan terus-menerus menonton konten serba cepat secara berlebihan membuat individu lebih sulit fokus pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Lebih jauh lagi, perilaku binge-watching (kecanduan menonton secara terus-menerus) telah terbukti mempengaruhi produktivitas dan mengganggu rutinitas harian penikmatnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.