Kanker Hati Hepatocellular Carcinoma, Tantangan, Terobosan, dan Harapan Baru Melalui Inovasi Imunoterapi
📅 Minggu, 26 Okt 2025, 18:35 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Astra Zeneca
JAKARTA – Tantangan terbesar dalam penanganan kanker hati di Indonesia terletak pada rendahnya kesadaran terhadap deteksi dini dan pencegahan. Di samping itu tingginya angka infeksi Hepatitis B dan C yang belum terdiagnosis merupakan tantangan lainnya.
Kurangnya kesadaran membuat banyak pasien baru menyadari kondisinya ketika penyakit sudah mencapai tahap lanjut karena gejala awal yang tidak khas atau samar. Inisiatif ini menjadi wujud komitmen bersama untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat mengenai kanker hati, khususnya Hepatocellular Carcinoma (HCC).
Hepatocellular carcinoma adalah salah satu jenis kanker hati primer yang paling umum terjadi. Sekitar 90% kejadian kanker liver adalah hepatocellular carcinoma, dan umumnya berkembang dari penyakit liver kronis, seperti sirosis.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat sekaligus memperingati Bulan Kesadaran Kanker Hati yang jatuh setiap bulan Oktober, AstraZeneca Indonesia bersama dengan Siloam Hospitals Kebon Jeruk menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk “Cancer Talk: Understanding Hepatocellular Carcinoma” di Jakarta, Kamis (23/10)
dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia, menyampaikan, ”Sebagai perusahaan biofarmasi global berbasis sains, AstraZeneca senantiasa berkomitmen memperluas akses terhadap terapi inovatif dan mendukung transformasi sistem kesehatan yang tangguh, berkelanjutan, dan berpusat pada pasien.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sejalan dengan semangat What Science Can Do, kami terus menghadirkan edukasi publik dan inovasi ilmiah yang memberikan harapan baru bagi pasien kanker hati di Indonesia, terutama bagi mereka yang sebelumnya memiliki pilihan pengobatan terbatas. Sinergi lintas sektor antara tenaga medis, pembuat kebijakan, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan pasien mendapatkan terapi yang tepat, di waktu yang tepat,” ujar dr. Feddy, melalui keterangan tertulis pada hari Kamis (23/10).
Pada kesempatan yang sama Inge Samadi, Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk juga menyampaikan,Siloam terus memperkuat langkah pencegahan dan penanganan penyakit kritis. Dengan deteksi dini, teknologi, dan kolaborasi lintas disiplin, pihaknya ingin mendampingi masyarakat menuju kesembuhan yang lebih cepat dan lebih baik. Banyak pasien datang dalam kondisi sudah lanjut karena gejala awal yang tidak disadari.
“Melalui Cancer Talk ini, kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai apa itu kanker hati, siapa yang berisiko, serta gejala yang perlu diwaspadai,” paparnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menuturkan, kanker hati merupakan salah satu kanker paling mematikan di dunia. Berdasarkan data Globocan 2022, kanker hati menempati peringkat keenam sebagai kanker paling umum dan penyebab kematian akibat kanker ketiga tertinggi di dunia, dengan sekitar 866.136 kasus baru dan 758.725 kematian akibat kanker hati di setiap tahunnya.
Di Indonesia, kanker hati menempati peringkat keenam dengan lebih dari 23.800 kasus baru dan 23.383 kemarian per tahun, menjadikannya penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua setelah kanker paru. Angka kelangsungan hidup lima tahun pasien juga masih rendah, hanya sekitar 1,7%,[2] menegaskan pentingnya deteksi dini, vaksinasi Hepatitis B, dan pemeriksaan fungsi hati secara rutin.
Kanker hati terbagi menjadi dua tipe utama, yaitu kanker hati primer dan kanker hati sekunder. Jenis yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel hati (hepatocellular carcinoma/HCC), yang mencakup sekitar 85–90% dari seluruh kanker hati primer.
Penyakit kanker hati sering kali tidak menimbulkan gejala jelas pada tahap awal, sehingga diagnosis dini menjadi tantangan besar. Faktor risiko utama seperti infeksi kronis Hepatitis B dan C, sirosis hati, serta perlemakan hati (fatty liver) masih banyak ditemukan di masyarakat.
menjelaskan,
“Hati merupakan organ vital yang berperan dalam metabolisme, detoksifikasi, dan penyimpanan energi tubuh. Ketika fungsi hati terganggu akibat kanker, dampaknya bisa sangat luas—mulai dari penurunan daya tahan tubuh hingga gangguan sistem metabolik yang mengancam nyawa,” ujar Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, SpPD-KHOM.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!