Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ketika Alam Jadi Penghidupan: Cerita Fardi dan Anas Menjemput Rezeki dari Wisata Rammang-Rammang

📅 Sabtu, 25 Okt 2025, 10:43 WIB | Oleh: Tim Penulis

Dua tahun terakhir, ia kembali ke kampung halamannya setelah sempat merantau ke Kalimantan untuk bekerja di perkebunan sawit.

"Dulu enggak ada pekerjaan di sini, jadi merantau ke Kalimantan," ujar Anas.

Namun setelah mendengar kawasan Rammang-Rammang ramai didatangi wisatawan, ia memutuskan pulang.

Kini, Anas menarik perahu wisata sambil tetap bekerja di tambak ikan dan udang milik warga setempat. Dalam sehari, ia mengaku bisa mendapat satu hingga dua kali perjalanan tergantung antrean penumpang.

Sebagian pendapatannya disisihkan untuk membayar iuran dermaga sebesar dua puluh ribu rupiah tiap kali beroperasi. Selebihnya ia gunakan untuk kebutuhan keluarga kecilnya.

"Anak saya dua, satu TK, satu baru satu tahun," katanya sambil tersenyum.

Bagi Anas, pekerjaan menarik perahu bukan sekadar tambahan penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk hidup di kampung sendiri.

Sebelum menjadi tempat wisata, kawasan ini hanya dilalui perahu dayung untuk keperluan warga. Kini, setiap kali wisatawan datang, perahu-perahu kecil di dermaga menjadi saksi perubahan ekonomi yang perlahan menghidupkan kampung.

Karst angkat ekonomi warga

Perubahan di Dusun Rammang-Rammang tak lepas dari berkembangnya kawasan karst Maros-Pangkep sebagai destinasi wisata unggulan Sulawesi Selatan.

Menurut Tudi Ledda dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sulsel, kawasan ini merupakan pegunungan karst terbesar kedua di dunia setelah China, dengan luas mencapai 43.750 hektare dan mencakup Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (Babul).

"Rammang-Rammang ini mulai dilirik sejak 2014, dan tahun 2015 mulai booming," katanya.

Sejak itu, penduduk yang dulu banyak merantau mulai kembali dan membuka usaha di kampung sendiri. Sebelum kawasan ini dikenal, di Kampung Berua hanya terdapat delapan rumah. Kini jumlahnya bertambah menjadi sekitar 17 kepala keluarga (KK) atau hampir 50 jiwa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
SPMB 2026 Bengkulu Tanpa Ti...
Megapolitan
Pemutihan Pajak Kendaraan B...
Megapolitan
30 Rumah di Tanah Tinggi Ja...
Megapolitan
Dua WNA Ditemukan Meninggal...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.