IHSG Selasa Pagi Dibuka Menguat 0,95 Persen
📅 Selasa, 21 Okt 2025, 09:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (21/10) dibuka menguat 76,71 poin atau 0,95 persen ke posisi 8.165,69. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 11,38 poin atau 1,43 persen ke posisi 807,69.
IHSG diprediksi bergerak menguat seiring dengan pelaku pasar yang merespon positif kebijakan-kebijakan ekonomi dalam negeri.
"IHSG hari ini diperkirakan melanjutkan tren positif didukung sentimen domestik yang kuat, meski terdapat kabar negatif dari Tiongkok.” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Dari dalam negeri, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) akan mengalokasikan 80 persen dari total dana kelolaan senilai 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp165 triliun untuk investasi di dalam negeri pada 2025. Investasi difokuskan di pasar modal, baik melalui pembelian obligasi maupun saham.
Selain itu, Danantara Indonesia menyampaikan akan mendorong lebih banyak perusahaan-perusahaan BUMN untuk menggelar aksi Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelaku pasar berharap langkah tersebut dapat memperdalam pasar modal Indonesia, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat sistem keuangan nasional.
Sentimen positif juga datang dari langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) yang berhasil menyetor Rp13,2 triliun hasil korupsi CPO ke kas negara, sehingga memperkuat kepercayaan publik terhadap penegakan hukum dan tata kelola fiskal.
Di sisi lain, pada pekan ini, pelaku pasar menantikan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dalam pertemuan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 21-22 Oktober 2025.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bank sentral tersebut telah melakukan pemangkasan suku bunga total sebesar 125 bps ke level 4,75 persen sepanjang tahun 2025, demi mendorong pertumbuhan dan kredit perbankan.
Dari kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat menjadi sinyal waspada karena berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas utama seperti batu bara, nikel, CPO, dan produk industri lain, yang dapat berdampak pada neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta kinerja saham berbasis komoditas di Bursa.
Di sisi lain, Bank Rakyat Tiongkok (PBoC) mempertahankan suku bunga pinjaman utama (LPR) pada rekor terendah untuk bulan kelima berturut-turut sebesar 3,0 persen untuk tenor 1 tahun dan 3,5 persen untuk tenor 5 tahun sesuai ekspektasi pasar.
Keputusan itu mencerminkan upaya menjaga stabilitas moneter di tengah ketegangan dagang Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), serta langkah bank sentral AS The Fed yang lebih longgar
Dari AS, pelaku pasar menantikan laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan besar, seperti Netflix, Coca-Cola, Tesla, dan Intel. Di sisi lain, terdapat potensi kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed pada akhir Oktober 2025.
Pada perdagangan Senin (20/10), bursa saham Eropa ditutup kompak menguat, di antaranya Euro Stoxx 50 menguat 1,35 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,52 persen, indeks DAX Jerman menguat 1,80 persen, serta indeks CAC Prancis menguat 0,39 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!