Rupiah Hari Ini Melemah, Investor Pasang Kuda-Kuda Hadapi Panasnya AS–Tiongkok!
📅 Jumat, 17 Okt 2025, 17:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja.
JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah akhir pekan ini mencerminkan suasana hati pasar yang sedang tegang. Investor lagi “main aman” atau memilih menahan langkah di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang kembali memanas.
Sentimen global yang tidak pasti membuat arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, sedikit tersendat.
Hubungan AS–Tiongkok punya pengaruh besar terhadap arah pasar keuangan dunia. Ketika dua ekonomi terbesar itu berseteru, risiko geopolitik meningkat, harga komoditas bisa terguncang, dan pelaku pasar biasanya buru-buru mencari aset yang dianggap aman seperti dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap mata uang emerging markets seperti Rupiah pun sulit dihindari.
Kurs rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Jumat (17/10) sore, melemah tipis sebesar 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp16.590 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.581 per dolar AS.
Begitu pula dengan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini (17/10), yang melemah di level Rp16.590 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.580 per dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi sikap waspada investor terkait ketegangan perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok.
“Trump telah mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif tambahan 100 persen pada semua impor dari Tiongkok mulai bulan depan sebagai tanggapan atas pembatasan Beijing terhadap pengiriman logam tanah jarang,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (17/10).
Pemerintah Tiongkok menegaskan tetap melanjutkan kebijakan pembatasan ekspor tanah jarang meski mendapat kritikan dari AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian, langkah-langkah pengendalian ekspor Tiongkok konsisten dengan praktik internasional dan diambil untuk lebih menjaga perdamaian dunia dan stabilitas regional, serta guna memenuhi kewajiban non-proliferasi dan kewajiban internasional Tiongkok lainnya.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent di Washington yang mengatakan bahwa tindakan terkait logam tanah jarang telah menciptakan perpecahan "Tiongkok versus dunia" dan menjadikan Beijing "mitra yang tidak dapat diandalkan”.
Pada Kamis (9/10), Kementerian Perdagangan Tiongkok mengumumkan pembatasan dan kontrol ekspor logam tanah jarang yang akan mulai berlaku secara bertahap pada 8 November 2025, kemudian sepenuhnya pada 1 Desember 2025. Alasan pembatasan itu adalah demi mencegah penyalahgunaan logam tanah jarang di sektor militer dan bidang sensitif lainnya.
Perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer asing atau masuk daftar pengawasan ekspor akan ditolak izinnya, sementara permohonan ekspor untuk produk yang berpotensi digunakan dalam persenjataan atau aktivitas terorisme juga takkan disetujui.
Pembatasan baru mewajibkan entitas asing memperoleh lisensi untuk mengekspor produk yang mengandung lebih dari 0,1 persen bahan tanah jarang domestik atau diproduksi menggunakan teknologi Tiongkok. Permohonan untuk barang yang dapat digunakan dalam senjata atau tujuan militer akan ditolak.
Presiden AS Donald Trump pada 10 Oktober menanggapi pembatasan itu dengan berang mengumumkan tarif baru 100 persen atas impor dari Tiongkok mulai 1 November 2025, serta kontrol ekspor pada seluruh perangkat lunak kritis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!