Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Defisit, Penurunan Harga Komoditas Tekan Penerimaan Negara

📅 Rabu, 15 Okt 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Defisit, Penurunan Harga Komoditas Tekan Penerimaan Negara Doc: ANTARA/Dhemas Reviyanto
Ket. Menkeu Purbaya Paparkan APBN KiTa Oktober 2025 - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober 2025 di Jakarta, Selasa (14/10).

JAKARTA -  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada triwulan III-2025 defisit sebesar 371,5 triliun rupiah atau 1,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit itu disebabkan pendapatan negara lebih rendah dibanding dengan realisasi belanja.

Penerimaan tercatat 1.863,3 triliun rupiah atau setara dengan 65 persen dari proyeksi (outlook) APBN tahun 2025. Nilai itu terkoreksi 7,2 persen dibandingkan realisasi pada periode yang sama 2024 sebesar 2.008,6 triliun rupiah.

Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai 2.234,8 triliun rupiah atau setara 63,4 persen dari proyeksi, terkoreksi 0,8 persen dari realisasi tahun lalu 2.251,8 triliun rupiah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Oktober 2025 di Jakarta, Selasa (14/10) mengatakan kendati defisit, kinerja APBN tetap terjaga dengan defisit 1,56 persen PDB dan keseimbangan primer yang positif.

Tekanan pada penerimaan negara jelas Menkeu karena penurunan harga komoditas global yang memengaruhi penerimaan perpajakan, khususnya di sektor minyak dan gas (migas) serta pertambangan.

Serapan dari penerimaan perpajakan tercatat sebesar 1.516,6 triliun rupiah atau setara 63,5 persen dari proyeksi, terkoreksi sebesar 2,9 persen dari realisasi tahun lalu. Penerimaan pajak turun 4,4 persen dengan realisasi 1.295,3 triliun atau setara 62,4 persen dari proyeksi.

Kondisi tersebut berbeda dengan penerimaan kepabeanan dan cukai yang tumbuh 7,1 persen menjadi 221,3 triliun rupiah atau 71,3 persen dari proyeksi.

“Penurunan harga komoditas seperti batu bara dan sawit menyebabkan penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan dan pajak pertambahan nilai (PPN) dalam negeri sedikit tertahan. Namun, sektor manufaktur dan jasa masih memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan,” kata Purbaya.

Adapun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat mencapai 344,9 triliun rupiah atau 72,3 persen dari proyeksi, melambat sebesar 19,8 persen.

Dari sisi pengeluaran, realisasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) melambat 1,6 persen dengan nilai 1.589,9 triliun rupiah setara 59,7 persen dari proyeksi. Seluruh komponen BPP juga menunjukkan tren perlambatan termasuk belanja kementerian/lembaga (K/L) turun 0,3 persen dengan realisasi 800,9 triliun rupiah atau 62,8 persen dari proyeksi. Sedangkan belanja non-K/L melandai 2,9 persen dengan senilai 789 triliun rupiah atau 56,8 persen dari proyeksi.

Khusus penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) tumbuh 1,5 persen senilai 644,9 triliun rupiah atau 74,6 persen dari proyeksi. “Efektivitas belanja didorong oleh pelaksanaan program prioritas, bantuan sosial (bansos), dan belanja modal infrastruktur,” kata Purbaya.

Dengan kinerja itu, keseimbangan primer tercatat surplus 18 triliun rupiah, menunjukkan konsolidasi fiskal yang terus berlanjut. APBN lanjut Menkeu tetap adaptif dan kredibel, yang mampu menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pemulihan ekonomi dan kesinambungan fiskal dalam jangka menengah.

Shortfall Pajak

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira mengatakan, ancaman shortfall pajak dan PNBP masih cukup besar. Dia pun meminta agar program jumbo yang minim manfaat langsung ditarik anggarannya, lalu digeser ke belanja yang menggerakan demand industri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Bos Perusahaan AI Dunia Ingin Perlambat Pengembangan, Persaingan AS-Tiongkok Jadi Hambatan
    Sangat disayangkan melihat bagaimana niat baik untuk mengkaji ...
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar

Warga Rusunawa Desak Pengusiran Dihentikan

1.5 jam yang lalu | Paundra Zakirulloh

Megapolitan
Warga Rusunawa Desak Pengus...
Advertisement
Sempat Anjlok 2,5 Persen, Pelantikan Suahasil Nazara Selamatkan IHSG dari Jurang Merah

Sempat Anjlok 2,5 Persen, Pelantikan Suahasil Nazara Selamatkan IHSG dari Jurang Merah

14 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.