Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bongkar Strategi DPR di MK, Utut Adianto Tegaskan UU TNI Jadi Tameng Keadilan Sosial dan Kekuatan Teritorial Negara

📅 Jumat, 10 Okt 2025, 08:52 WIB | Oleh:
Bongkar Strategi DPR di MK, Utut Adianto Tegaskan UU TNI Jadi Tameng Keadilan Sosial dan Kekuatan Teritorial Negara Doc: Istimewa
Ket. Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto saat memberikan keterangan dalam sidang lanjutan di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perkara 68, 82, dan 92/PUU-XXIII/2025 tentang pengujian materiil UU TNI, Kamis (9/10/2025)

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Sidang Mahkamah Konstitusi (MK) pada Kamis (9/10/2025) kembali menjadi sorotan publik. Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, tampil memberikan keterangan penting dalam perkara 68, 82, dan 92/PUU-XXIII/2025 terkait pengujian materiil Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI.

Dalam paparan tersebut, Utut menegaskan bahwa UU TNI disusun bukan sekadar regulasi militer, melainkan fondasi strategis untuk menjaga kesatuan negara, memperkuat teritorial, dan menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sidang ini merupakan lanjutan dari sidang sebelumnya pada 24 September yang sempat tertunda karena DPR dan pemerintah belum menyerahkan keterangan. Kini, DPR hadir dengan argumen kokoh, membela setiap pasal yang digugat. Salah satu isu utama adalah Pasal 7 tentang Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya soal perbantuan TNI kepada pemerintah daerah.

Utut menjelaskan bahwa pelibatan TNI di daerah bukanlah bentuk militerisasi sipil, melainkan wujud konkret konsep negara kesatuan. Bantuan TNI, tegasnya, hanya dilakukan atas permintaan resmi kepala daerah dan aparat keamanan setempat.

"TNI tidak serta-merta turun tangan, semua ada mekanismenya,” ujar politisi PDIP yang juga pernah memimpin Panja RUU TNI tersebut.

Untuk perkara 82/PUU-XXIII/2025, Utut mengungkap bahwa pemohon telah mencabut gugatannya terkait kewenangan TNI dalam penanganan serangan siber. Namun, perkara 92/PUU-XXIII/2025 masih menjadi perdebatan panas, terutama soal batas usia pensiun perwira tinggi TNI.

Utut membeberkan bahwa aturan usia pensiun disusun dengan asas keadilan sosial dan realitas institusional TNI.

"Prajurit itu berjuang seumur hidup. Kita atur bertahap: dari Tamtama 55 tahun, Kolonel 58, hingga Jenderal bintang empat 63 tahun,” jelasnya.

Menjawab pertanyaan Hakim Konstitusi Saldi Isra, Utut menekankan bahwa kebijakan usia pensiun mempertimbangkan keseimbangan antara kesejahteraan prajurit dan kemampuan anggaran negara.

"Kalau anak prajurit belum selesai sekolah saat ayahnya pensiun di usia 53, itu tidak adil. Tapi kita juga realistis dengan kondisi keuangan negara,” tuturnya.

Menutup keterangan, Utut menyampaikan duka mendalam atas gugurnya prajurit saat persiapan HUT TNI, sembari menegaskan bahwa profesi militer adalah pengabdian tertinggi bagi bangsa. Ia pun berharap MK menolak seluruh gugatan karena menurutnya, landasan hukum dan moral UU TNI sudah sangat kuat.

"Semua dalil pemohon sudah kami jawab dengan argumentasi konstitusional. UU TNI ini lahir demi menjaga NKRI,” tandasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.