Inovasi Petani Muda Wujudkan Swasembada Kopyor di Bantul
📅 Kamis, 09 Okt 2025, 18:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. Pemkab Bantul
BANTUL- Kelapa kopyor dikenal sebagai salah satu jenis kelapa dengan cita rasa khas dan tekstur lembut yang digemari banyak orang. Daging buahnya yang gurih dan mudah hancur membuatnya berbeda dari kelapa biasa. Namun, karena kelapa kopyor hanya muncul akibat mutasi genetik alami, jumlahnya terbatas dan sulit ditemukan di pasaran. Potensi langka inilah yang mendorong warga Kalurahan Semuten, Kapanewon Dlingo, Bantul, untuk mengembangkan budidaya kelapa kopyor sebagai produk unggulan desa mereka.
Lurah Semuten, Mukidi, menjelaskan bahwa pada tahun 2023–2024, pemerintah kalurahan telah mengalokasikan dana APBKal sebesar Rp42 juta untuk program pembibitan kelapa varietas lokal. Dari program ini dihasilkan sekitar 2.000 bibit yang kemudian dibagikan kepada warga untuk ditanam di pekarangan masing-masing. Langkah ini menjadi awal inisiatif Kalurahan Semuten menuju cita-cita besar sebagai “Kampung Kopyor”.
Ketika Taruna Tani Rukun Lestari mendapat tawaran kerja sama untuk pengembangan kelapa kopyor 100 persen melalui teknologi kultur embrio, pemerintah kalurahan segera mendukungnya dengan menyediakan tanah kas desa (TKD) seluas 3–4 hektare sebagai lokasi demplot. “Kami memandang di Semuten ada kelompok tani milenial Taruna Tani yang dipimpin Mas Iwan. Kami berikan lahan 3–4 hektare untuk dikelola Taruna Tani, untuk penanaman kelapa kopyor. Mas Iwan mencari bibit di Bogor,” ujar Mukidi.
Ketua Kelompok Taruna Tani Rukun Lestari, Iwan Hariyanto, melakukan kultur embrio di laboratorium Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Bogor untuk memperoleh bibit kelapa kopyor 100 persen. Dari satu kali proses kultur, dapat dihasilkan sekitar 700 bibit, namun waktu yang dibutuhkan mencapai 12–14 bulan hingga siap tanam.
Sembilan bulan lalu, hasil rekayasa tersebut ditanam di lahan seluas 4 hektare. Sebanyak 700 pohon kelapa dari lima varietas — kopyor hasil kultur embrio, konvensional, Wulung Ijo, Genjah Entok, dan Pandan Wangi — tumbuh di lahan ini. Panen pertama diperkirakan dapat dilakukan dalam dua setengah tahun ke depan. “Ini untuk mendukung pemenuhan pasar yang saat ini masih kurang. Kenapa tertarik dengan kopyor? Karena kelapa tidak mengenal musim sehingga bisa menjadi pendapatan bulanan bagi petani,” tutur Iwan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keberadaan demplot ini mulai menarik perhatian banyak pihak. Setiap akhir pekan, lokasi tersebut dikunjungi akademisi, kelompok tani wanita (KWT), maupun Taruna Tani dari daerah lain untuk belajar. Iwan pun memiliki rencana jangka panjang untuk menjadikan kawasan ini sebagai sentra pertanian terpadu. “Ke depan saya punya rancangan di lokasi ini akan menjadi pertanian terpadu. Ada perikanan, ada peternakan, ada jalan. Benar-benar di sini akan menjadi sentra untuk belajar, menjadi wisata edukasi,” katanya.
Sambil menunggu hasil panen, lahan demplot juga dimanfaatkan untuk sistem tumpangsari dengan tanaman sayuran. Hasil penjualan digunakan untuk menambah pendapatan petani dan mendukung operasional demplot. Iwan menyebut perawatan kelapa cukup sederhana, hanya membutuhkan pengairan sekitar satu liter per hari dan pemupukan setiap enam bulan.
Selain budidaya, kelompok ini juga mengembangkan produk olahan kelapa kopyor seperti kelapa kopyor beku, minuman kaleng, dan kelapa segar. Produk frozen telah dipasarkan ke rumah makan di Bantul hingga Bandung, sementara produk kaleng masih menunggu izin edar dari BPOM. Untuk memperluas pemasaran, Taruna Tani membuka stan di sejumlah destinasi wisata seperti Heha, Hutan Pinus Becici, dan Rest Area Wonosari. “Kita cari tempat wisata keramaian dan bikin stand di situ. Biasanya kita jual yang segar dan yang buat oleh-oleh,” ujar Iwan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kelompok ini juga menjual bibit kelapa hasil kultur embrio seharga Rp1,2 juta per bibit dengan garansi, sedangkan bibit konvensional dan Wulung Ijo dijual Rp185 ribu, serta Pandan Wangi dengan potensi kopyor 25 persen seharga Rp200 ribu.
Lurah Semuten, Mukidi, mengapresiasi perkembangan cepat proyek ini. “Alhamdulillah belum ada satu tahun, sudah mulai terlihat berkembang. Insya Allah besok dari tahun ke tahun akan ada pengembangan,” pungkasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!