Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Laut New Zealand Memanas Lebih Cepat, Ribuan Rumah Terancam Banjir

📅 Rabu, 08 Okt 2025, 21:52 WIB | Oleh:
Laut New Zealand Memanas Lebih Cepat, Ribuan Rumah Terancam Banjir Doc: Getty Images

JAKARTA - Perairan laut di sekitar New Zealand mengalami pemanasan 34 persen lebih cepat dibandingkan rata-rata global, mengancam infrastruktur pesisir dan ekosistem negara kepulauan Pasifik tersebut, tulis laporan Kementerian Lingkungan Hidup New Zealand yang dirilis pada Rabu (8/10).

“Laju pemanasan perairan laut di sekitar New Zealand terus meningkat dan kini 34 persen lebih cepat dari rata-rata global… Lautan New Zealand memanas lebih cepat akibat perubahan sirkulasi atmosfer dan perubahan arus laut yang menyertainya,” demikian isi laporan berjudul Our Marine Environment 2025 tersebut.

Laporan tersebut mencatat bahwa sekitar 219.000 properti hunian pesisir senilai total 180 miliar dolar New Zealand, serta infrastruktur pesisir senilai 26,18 miliar dolar New Zealand (per 2016), berada di wilayah yang rawan banjir dan badai.

Di beberapa area, permukaan laut diperkirakan akan naik 20–30 sentimeter pada tahun 2050, yang dapat menyebabkan badai menerjang daratan setiap tahun dari arah laut.

Laporan itu juga menyoroti dampak signifikan aktivitas manusia terhadap lingkungan laut New Zealand.

“Aktivitas manusia, baik di darat maupun di laut, terus memberikan tekanan terhadap lingkungan laut. Dampak dari darat seperti polusi, sedimentasi, penyempitan habitat pesisir, dan limpasan nutrien merusak ekosistem pesisir dan laut.

"Sementara aktivitas laut seperti tangkapan sampingan, penangkapan ikan dengan pukat dasar, dan penangkapan berlebihan semakin mengancam keanekaragaman hayati dan ketahanan ekologi,” tulis laporan tersebut.

Laporan itu juga mencatat pergeseran subtropical front—batas antara perairan dingin dan hangat—sejauh 120 kilometer ke arah barat, yang untuk pertama kalinya menunjukkan perubahan sirkulasi laut skala besar di sekitar negara tersebut.

Pemanasan laut telah merusak industri perikanan dan budidaya laut New Zealand, sementara gelombang panas laut yang semakin sering terjadi telah menyebabkan kematian spons laut, alga, dan penguin, kata para ilmuwan. Ant/Sputnik-RIA Novosti

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Timothy Ivan Triyono Mundur dari Bakom RI

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Timothy Ivan Triyono Mundur...
Luar Negeri
AS Kirim Dua Jet Tempur F-1...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.