Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ECPAT: Banyak Anak di Bali Rentan Dieksploitasi

📅 Senin, 29 Sep 2025, 16:43 WIB | Oleh:
ECPAT: Banyak Anak di Bali Rentan Dieksploitasi Doc: ANTARA/Rolandus Nampu
Ket. Koordinator Nasional ECPAT Indonesia Andy Ardian memberikan keterangan di sela-sela diskusi publik bertajuk "Mengakhiri Eksploitasi Seksual dan Kekerasan Terhadap Anak di Sektor Informal dan Sharing Economy" di Denpasar, Bali, Senin (29/9).

Denpasar -- End Child Prostitution in Asian Tourism (ECPAT) Indonesia, jaringan global organisasi masyarakat sipil yang bekerja untuk mengakhiri eksploitasi seksual terhadap anak, menyoroti banyak anak di Bali rentan dieksploitasi di sektor pariwisata.

Koordinator Nasional ECPAT Indonesia Andy Ardian dalam diskusi publik bertajuk "Mengakhiri Eksploitasi Seksual dan Kekerasan Terhadap Anak di Sektor Informal dan Sharing Economy" di Denpasar, Senin, mengatakan pekerja anak di Bali yang rentan terhadap eksploitasi itu menimbulkan risiko serius terhadap perkembangan fisik dan mental mereka, apalagi anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

"Oleh karena kasus kekerasan seksual ini merupakan kasus kriminal ya, jadi agak sulit untuk mendapatkan data secara langsung, kecuali kasus ini terungkap," katanya.

Sebagai perbandingan, pihaknya mengambil data BPS Bali 2024 yang menunjukkan angka lebih tinggi, yakni 2,97 persen anak usia 10-17 tahun banyak bekerja di sektor pariwisata, mulai dari pedagang kecil, pengamen, pekerja spa, hingga akomodasi informal berbasis rumah tangga.

Karena itu tren kenaikan tersebut memerlukan kebijakan yang diperkuat, kata dia, mekanisme penegakan hukum yang efektif, dan kolaborasi multi-pihak untuk melindungi anak-anak yang rentan di semua sektor, termasuk pariwisata Bali.

Andy menjelaskan banyak dari pekerjaan tersebut secara langsung atau tidak langsung terkait dengan sektor pariwisata, mencerminkan keterkaitan yang kompleks dan sering tersembunyi antara pertumbuhan pariwisata dan pekerja anak di Bali.

Menurut Andy, lingkungan pekerjaan yang sarat risiko eksploitasi disebabkan oleh pengawasan yang terbatas.

Perlindungan terhadap anak di sektor pariwisata, khususnya di Bali, katanya, memainkan peran sangat penting mengingat Bali menyumbang 44 persen dari total devisa pariwisata Indonesia, dengan kontribusi sebesar Rp107 triliun terhadap perekonomian nasional.

"Jadi, Bali memang dikenal sebagai daerah destinasi wisata, yang memang itu sangat banyak wisatawannya, sekaligus berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia," katanya.

Namun demikian, lanjutnya, pertumbuhan pariwisata yang pesat dan tingginya arus wisatawan menghadirkan tantangan besar, perlu mendapatkan perhatian serius terutama dalam memastikan perlindungan anak dan mendorong praktik pariwisata berkelanjutan.

Isu tersebut erat kaitannya dengan peran dan tanggung jawab sektor bisnis formal dan informal, serta arah kebijakan nasional dalam pembangunan pariwisata dan bisnis.

Karena itu, kata Andy, perlu kolaborasi berbagai elemen termasuk pemerintah, sektor swasta, komunitas adat, dan masyarakat sipil merumuskan langkah strategis bersama guna memastikan pariwisata Bali bebas dari praktik eksploitasi anak baik melalui riset, advokasi kebijakan, penyusunan pedoman perlindungan anak bagi para pemangku kepentingan, serta kampanye kesadaran yang komprehensif.

Sebab tanpa intervensi konkret dari pemerintah dan sektor swasta sebagai penggerak utama kebijakan dan ekonomi, kata dia, upaya perlindungan anak melalui nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal akan tetap terbatas.

Acara diskusi tersebut juga turut dihadiri oleh pemangku kepentingan dari instansi terkait seperti Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (PPPA), Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...

Kemeriahan Gebyar PAUD Yogyakarta 2026

50 menit yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Megapolitan
Pelatihan Mengemudi Becak L...
Olahraga
Ganda Campuran Indonesia Ra...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.