Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

DPR Desak Ekspor Emas Direm, Loh Memangnya Kenapa?

📅 Senin, 29 Sep 2025, 20:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
DPR Desak Ekspor Emas Direm, Loh Memangnya Kenapa? Doc: ANTARA/ Suriani Mappong
Ket. Ilustrasi - Emas yang banyak diminati sebagai investasi oleh masyarakat Sulsel khususnya petani komoditas ekspor seperti cengkeh dan kakao saat setelah panen.

JAKARTA – Keputusan menghentikan sementara ekspor emas perlu dilihat sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah di sektor hilir.

Dengan menahan ekspor, pemerintah bisa mendorong pengolahan emas di dalam negeri agar memberi kontribusi lebih besar pada industri manufaktur, lapangan kerja, dan penerimaan negara.

Namun, kebijakan ini juga berpotensi menekan pelaku usaha tambang yang bergantung pada pasar global, sehingga implementasinya perlu diimbangi dengan insentif hilirisasi dan kepastian regulasi.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade meminta kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk menunda ekspor emas guna memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

“Komisi VI DPR RI meminta kementerian terkait Perdagangan dan Perindustrian untuk menunda ekspor emas sampai kebutuhan dalam negeri terpenuhi,” ujar Andre dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam), di Senayan, Jakarta, Senin (29/9).

Pernyataan tersebut merupakan respons Komisi VI selaku komisi yang membidangi BUMN atas keluhan Antam ihwal sulitnya perusahaan pelat merah tersebut mendapatkan pasokan emas.

Direktur Utama Antam Achmad Ardianto menyampaikan bahwa Indonesia berpotensi memproduksi emas sebesar 90 ton per tahunnya.

Namun, karena tidak ada aturan yang mengharuskan perusahaan tambang untuk menjual hasil tambang emasnya kepada Antam, perusahaan pelat merah tersebut tidak bisa memenuhi permintaan emas di dalam negeri.

Tambang emas milik Antam yang berlokasi di Pongkor, Jawa Barat, hanya bisa memproduksi 1 ton emas dalam satu tahun.

Sedangkan, realisasi penjualan emas Antam pada 2024 berada di angka 43 ton. Tahun ini, Antam menargetkan penjualan emas mencapai 45 ton.

Ketimpangan produksi emas Antam dengan permintaan emas menyebabkan harus mengimpor emas kurang lebih 30 ton dari Singapura dan Australia.

“Sebagian (perusahaan tambang) menjual ke perusahaan perhiasan, tetapi ada juga yang diekspor, karena memang peraturannya tidak meng-encourage orang untuk jual (emas) di dalam negeri,” kata Ardianto.

Ardianto sekaligus menegaskan bahwa bukan Antam yang mengekspor emas ke luar negeri. Yang mengekspor emas, kata dia, merupakan perusahaan-perusahaan tambang emas lainnya yang ada di Indonesia.

“Antam tidak pernah mengekspor emas. Yang mengekspor emas itu adalah perusahaan-perusahaan (tambang lain) yang ada di Indonesia,” ujar dia menegaskan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
Daerah
Penanganan Kebakaran TPA Ta...
Nasional
Jelarang, Satwa Langka Terl...
Advertisement
Daftar Terakhir Perolehan Medali Asian Games 2026: Indonesia Posisi ke-16

Daftar Terakhir Perolehan Medali Asian Games 2026: Indonesia Posisi ke-16

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.