Survei: Ketersediaan Makananan Menjadi Pertimbangan Utama dalam Pemilihan Destinasi Muslim Indonesia
📅 Jumat, 26 Sep 2025, 22:33 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Vero
JAKARTA – Pariwisata ramah muslim kini berkembang pesat, dari yang sebelumnya dianggap segmen khusus menjadi bagian dari tren utama. Wisatawan muslim Indonesia, khususnya, telah menjadi faktor penentu yang mendorong destinasi di seluruh dunia menyesuaikan diri dengan kebutuhan berbasis keyakinan.
Studi terbaru dari Vero dan GMO-Z.com Research mengungkap bahwa 89% muslim Indonesia menempatkan ketersediaan makanan halal sebagai prioritas utama saat bepergian. Temuan ini berpengaruh langsung terhadap strategi destinasi global, mulai dari Tokyo hingga Dubai.
Survei yang melibatkan 509 responden muslim Indonesia berusia 18–45 tahun dengan beragam latar belakang menunjukkan bahwa ketersediaan makanan halal tidak hanya memengaruhi pilihan destinasi, tetapi juga membentuk persepsi tentang seberapa ramah sebuah tempat bagi wisatawan muslim.
Executive Director Vero Indonesia Diah Andrini Dewi, mengatakan di negara mayoritas muslim, ketersediaan fasilitas halal mungkin sudah dianggap hal yang biasa. Namun, ketika negara dengan mayoritas non-muslim turut menyediakannya, pengalaman itu terasa berbeda.
“Kehadiran fasilitas halal dipandang sebagai bentuk kepedulian budaya dan rasa menghargai, yang membuat wisatawan muslim merasa lebih diterima. Faktor ini semakin penting seiring meningkatnya minat terhadap destinasi non-muslim seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan, yang kini bersaing ketat dengan negara mayoritas muslim seperti Malaysia dan Arab Saudi sebagai pilihan utama perjalanan,” ujarnya melalui keterangannya pada hari Jumat (26/9).
Sebaiknya Anda baca juga:
Senior Advisor ASEAN Vero Chatrine Siswoyo, menyampaikan, yang mereka inginkan sebenarnya sederhana namun penuh makna, yakni kesempatan untuk menjelajahi dunia tanpa harus meninggalkan jati diri.
“Itu berarti ketersediaan makanan halal yang mudah dijangkau, ruang ibadah yang dihormati, serta dukungan teknologi digital yang membuat perjalanan lebih praktis dan nyaman,” ucapnya.
Sebagai pelengkap hasil survei, penulis juga menganalisis percakapan daring di kalangan komunitas muslim Indonesia. Tercatat, antara Agustus 2024 hingga 2025, akomodasi dan hotel halal telah dicari hingga 7.456.100 kali.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Angka ini menunjukkan bahwa akomodasi halal bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga tentang menghadirkan ruang yang layak bagi wisatawan untuk menunaikan ibadah selama perjalanan,” paparnya.
Global CEO GMO-Z.com Research Shinichi Hosokawa, mengatakan, muslim Indonesia tidak hanya membutuhkan makanan halal dan fasilitas ibadah, tetapi juga pengalaman yang autentik, lancar, menyenangkan, sekaligus menghargai keyakinan dan nilai budaya mereka. Merek dan destinasi yang tidak hanya sekadar memenuhi aturan namun mampu memberikan komunikasi yang jelas.
“Sertifikasi yang transparan, serta benar-benar peduli pada gaya hidup dan praktik etis akan lebih mudah meraih kepercayaan dan loyalitas dari segmen yang terus berkembang ini. GMO-Z.com Research dengan bangga menghadirkan wawasan yang dapat membantu pelaku bisnis menemukan peluang baru, menutup kesenjangan, serta menghadirkan pengalaman perjalanan yang bermakna dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Studi ini menyoroti bahwa peluang pariwisata ramah muslim kini menjadi kebutuhan yang mendesak sekaligus langkah strategis bagi sektor publik maupun swasta. Dari upaya pemerintah membangun infrastruktur wisata ramah muslim hingga investasi perusahaan F&B, transportasi, dan teknologi dalam fasilitas serta pelayanan yang sesuai dengan standar halal. Hal-hal ini ikut mendorong terbentuknya ekosistem pariwisata global yang lebih inklusif.
Para influencer, yang disebut oleh 89% responden survei sebagai sumber informasi utama, juga mendorong perubahan ini melalui konten-konten mereka mengenai restoran halal, panduan destinasi, hingga pengalaman halal lokal.
“Sebagai penghubung budaya, para influencer mampu menjembatani destinasi dengan wisatawan muslim, membangun kepercayaan di ruang digital, dan menciptakan narasi yang menekankan autentisitas serta inklusivitas,” jelas Diah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!