Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Strategi Pengelolaan Fiskal harus Perkuat Basis Produksi dan Hilirisasi

📅 Jumat, 26 Sep 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Strategi Pengelolaan Fiskal harus Perkuat Basis Produksi dan Hilirisasi Doc: istimewa
Ket. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menargetkan tambahan penerimaan negara hingga 220 triliun rupiah lebih, dari setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi yang dicapai Indonesia.

JAKARTA - Pemerintah khususnya Kementerian Keuangan diharapkan lebih mengarahkan kebijakan ekonomi ke sektor-sektor produktif yang memiliki daya ungkit besar, sehingga bisa meningkatkan penerimaan negara. Arah kebijakan pun tidak boleh hanya mendorong konsumsi jangka pendek atau aktivitas ekonomi yang rawan rente seperti impor pangan. 

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menargetkan tambahan penerimaan negara hingga 220 triliun rupiah lebih, dari setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi yang dicapai Indonesia. Purbaya menyebut fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga pengelolaan uang negara agar tidak mengganggu perekonomian.

“Kalau saya enggak salah hitung, setiap tumbuh 1 persen ekonomi, saya dapat tambahan income sekitar 220 triliun rupiah atau lebih. Jadi, itu yang kita kejar. Kalau tambah setengah persen (ekonomi tumbuh 0,5 persen), income saya tambah 110 triliun rupiah,” kata Purbaya.

Sejak menjabat sebagai menteri keuangan pada Senin (8/9), Purbaya tidak mengubah target penerimaan pajak di APBN 2026, yakni tetap 2.357,7 triliun rupiah.

“Dengan pengelolaan fiskal efektif, dukungan sektor keuangan yang likuid dan efisien, serta iklim investasi yang kondusif, pertumbuhan ekonomi 2026 ditargetkan sebesar 5,4 persen,” kata Menkeu.

Purbaya pun pada kesempatan itu berjanji menambah bantuan atau subsidi untuk masyarakat dari anggaran yang tidak terpakai di 2025. Dia menegaskan tak boleh ada uang negara yang menganggur, apalagi hanya nongkrong di Bank Indonesia (BI).

Industri Pengolahan

Menanggapi pernyataan Menkeu itu, Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi mengaku optimisme Menkeu itu bisa dicapai dengan syarat pertumbuhan yang terjadi ditopang oleh sektor-sektor produktif yang punya daya ungkit besar. Arah kebijakan pun jelasnya tidak boleh hanya mendorong konsumsi jangka pendek atau aktivitas ekonomi yang rawan rente seperti impor pangan.

“Dari sisi ekonomi politik, pertumbuhan harus bersumber dari industri pengolahan, teknologi, pertanian modern, atau energi terbarukan. Kalau hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga atau sektor rente, penerimaan negara tidak akan berkelanjutan,” jelas Iyuk.

Strategi pengelolaan fiskal juga harus diarahkan untuk memperkuat basis produksi dan hilirisasi. Dengan begitu, setiap tambahan pertumbuhan akan terkonversi menjadi pendapatan negara yang lebih stabil dan tahan lama.

Dia juga menekankan pentingnya Pemerintah menjaga konsistensi regulasi. Sebab, kepastian hukum dan stabilitas kebijakan adalah syarat utama agar hubungan antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat berjalan seimbang.

“Kalau regulasi sering berubah karena tekanan politik jangka pendek, maka kepercayaan investor terganggu. Stabilitas regulasi inilah yang akan memastikan tambahan penerimaan negara benar-benar bisa optimal, sesuai harapan Menkeu,” pungkasnya.

Di waktu terpisah, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, dalam menciptakan pertumbuhan dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi dapat ditingkatkan dari peningkatan pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor. Sedangkan pajak dan impor adalah sisi kontraktifnya.

Target tambahan 220 triliun rupiah dari setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen katanya bisa dicapai, tetapi bukan terjadi secara instant, namun melalui mekanisme transmisi dan multiplier effect. “Persoalannya, dimulai dari pelaku ekonomi yang mana sebagai stimulan pertumbuhan?,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.