Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Tembus Rp16.700! Hutang Negara dan Inflasi Jadi Ancaman Serius

📅 Kamis, 25 Sep 2025, 17:56 WIB | Oleh:
Rupiah Tembus Rp16.700! Hutang Negara dan Inflasi Jadi Ancaman Serius Doc: ANTARA/Dhemas Reviyanto
Ket. Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9).

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah ke level Rp16.749 per dolar AS pada Kamis (25/9). Analis menilai pelemahan ini dipicu belanja ekspansif pemerintah yang dibiayai utang, turunnya minat asing terhadap obligasi negara, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi disiplin fiskal pemerintah di tengah belanja yang ekspansif.

“Belanja ekspansif pemerintah akan dibiayai lebih dominan dengan hutang di tengah minat asing terhadap obligasi negara yang turun,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore melemah sebesar 65 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.749 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.684 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga melemah ke level Rp16.752 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.680 per dolar AS.

Dulu, kepemilikan asing disebut sempat mendekat 40 persen. Adapun saat ini berada di bawah 20 persen, sehingga Bank Indonesia (BI) dipaksa untuk membantu menutupi kekurangan pembiayaan melalui sharing burden, dengan menyerap obligasi negara.

Kebijakan tersebut dinilai berisiko meningkatkan angka inflasi Indonesia.

“Sementara pembiayaan dari pajak melemah terindikasi oleh tax ratio di bawah 10 persen, karena sumber penerimaan pajak terbesar dari pajak penghasilan industri pengolahan yang di dalamnya ada buruh sebagai pajak penghasilan per orang,” ucap dia.

Rully memberikan solusi, yakni keharusan adanya akselerasi lebih cepat proses industrialisasi agar dapat pajak pendapatan dari perusahaan dan pajak payroll (sistem penggajian) dari pekerja.

“Semaksimal mungkin (perlu) mengurangi ketergantungan pembiayaan belanja dari utang,” katanya.

Pelemahan rupiah juga masih berasal dari pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang kurang dovish perihal potensi pemangkasan suku bunga AS.

Powell disebut menyampaikan penurunan suku bunga ke depan masih akan terbatas karena risiko inflasi akibat kebijakan tarif. Hal tersebut semakin memperuncing perpecahan dengan anggota The Fed lain yang menginginkan penurunan suku bunga lanjutan. Selain itu juga menambah ketidakpastian kebijakan suku bunga ke depan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Nasional
Mutasi Polri, Pejabat Divpr...
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.