Modus Edan! Bandar Narkoba di Jakarta Selatan Jualan Kopi hingga Kosmetik untuk Kelabui Warga
📅 Kamis, 25 Sep 2025, 17:30 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/HO-Polres Metro Jakarta Selatan
JAKARTA – Polres Metro Jakarta Selatan mengungkap modus baru peredaran narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya (narkoba) di wilayahnya. Barang haram itu disamarkan dalam penjualan kopi dan kosmetik untuk mengelabui masyarakat sekitar.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Murodih, mengatakan pihaknya menemukan peredaran narkoba di sebuah warung kopi (warkop) kontainer. Dari penggerebekan di lokasi tersebut, polisi mengamankan tujuh butir psikotropika jenis sabu-sabu seberat satu miligram (mg), tujuh butir sabu-sabu dua mg, serta sebuah telepon seluler yang diduga digunakan untuk transaksi.
“Jadi, dari dua titik ini dari tempat warung kopi kontainer, kita temukan ada beberapa jenis narkoba,” kata Murodih kepada wartawan di Jakarta, Kamis (25/9).
Selain di warkop, peredaran narkoba juga ditemukan di sebuah toko kosmetik. Petugas mendapati 12 butir obat-obatan terlarang yang sudah dibungkus plastik bening. Dari lokasi itu, polisi mengamankan dua penjaga toko yang diduga ikut mengedarkan.
Dalam praktiknya, narkoba tersebut dijual dengan harga relatif murah, yakni antara Rp15 ribu hingga Rp30 ribu per butir. Harga ini membuat barang terlarang itu lebih mudah diakses oleh masyarakat, khususnya kalangan bawah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, polisi juga menangkap dua pelaku lain berinisial A dan AA yang diduga kuat sebagai pengedar. Keduanya ditangkap di kawasan Jagakarsa dan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Kamis (18/9). Penangkapan ini bermula dari laporan warga yang curiga dengan aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka.
Data Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menunjukkan Jakarta masih menjadi episentrum peredaran narkoba di Indonesia. Hingga awal 2025, prevalensi penyalahgunaan narkoba di ibu kota tercatat 3,3 persen, atau sekitar 132 ribu jiwa. Dari pemetaan BNN, terdapat 112 kawasan rawan narkoba di Provinsi DKI Jakarta.
Sebagai upaya penanganan, BNN Provinsi DKI Jakarta menyediakan empat klinik rehabilitasi yang sudah melayani sekitar 1.150 penyalahguna. Namun, upaya ini belum cukup karena para bandar masih terus memanfaatkan kerentanan ekonomi warga. “Kemiskinan dijadikan celah untuk membentuk patron-patron sosial baru,” ujar Murodih.
Sebaiknya Anda baca juga:
Polisi menegaskan akan terus memperketat pengawasan serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam melaporkan aktivitas mencurigakan agar peredaran narkoba di Jakarta dapat ditekan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!