Produktivitas Bukan Pilihan, Tapi Keharusan! Menaker Soroti Masa Depan Ekonomi RI
📅 Senin, 08 Sep 2025, 22:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
JAKARTA – Peningkatan produktivitas nasional merupakan fondasi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Produktivitas yang tinggi memungkinkan sumber daya—baik tenaga kerja, modal, maupun teknologi—dimanfaatkan secara lebih efisien, sehingga menghasilkan output yang lebih besar tanpa harus menambah biaya secara proporsional.
Dalam konteks global, peningkatan produktivitas juga menjadi kunci bagi Indonesia untuk keluar dari middle income trap, memperluas daya saing ekspor, dan menarik investasi asing.
Selain itu, produktivitas yang lebih baik akan memperkuat daya beli masyarakat, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.
Oleh karena itu, strategi peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan infrastruktur, serta reformasi regulasi agar iklim usaha lebih kondusif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menilai peningkatan produktivitas nasional merupakan kunci utama bagi daya saing sumber daya manusia (SDM) dan industri Indonesia di tingkat regional dan global.
“Produktivitas adalah kata kunci bagi daya saing, sekaligus fondasi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” kata Menaker Yassierli dalam keterangannya di Jakarta, Senin (8/9).
Ia menilai, tingkat produktivitas Indonesia masih di bawah rata-rata negara kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dan pertumbuhannya cenderung stagnan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kita menghadapi tantangan besar. Tingkat produktivitas Indonesia masih di bawah rata-rata negara ASEAN dan pertumbuhannya cenderung stagnan. Faktor modal pun belum memberikan dampak signifikan. Ini PR besar kita bersama,” katanya.
Menaker mengatakan, berdasarkan kajian McKinsey, saat ini tingkat produktivitas Indonesia tercatat sekitar 11 ribu dolar AS per pekerja.
Ia menilai, demi mencapai target Indonesia Emas 2045, angka ini harus meningkat hingga 440 persen.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk mengakselerasi capaian tersebut,” ujar Yassierli.
Selain itu, Menaker juga menyoroti ketimpangan produktivitas antarsektor industri. Industri padat karya dinilai masih memiliki produktivitas rendah, sementara industri padat modal relatif lebih tinggi.
“Sebagai negara besar, kebijakan pertumbuhan ekonomi harus memperhatikan sektor padat karya agar produktivitas nasional dapat tumbuh lebih merata,” kata dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!