Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lima Kunci Keamanan Pangan untuk Cegah Keracunan MBG

📅 Senin, 08 Sep 2025, 23:05 WIB | Oleh:
Lima Kunci Keamanan Pangan untuk Cegah Keracunan MBG Doc: Antara
Ket. Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan BPOM Agus Yudi Prayudana (paling kiri).

Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan lima kunci keamanan pangan yang harus dimiliki setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mencegah insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Yang penting itu bagaimana teman-teman di SPPG bisa menerapkan lima kunci keamanan pangan, pertama dari proses mendapatkan bahan bakunya," kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan BPOM Agus Yudi Prayudana di Jakarta, Senin.

Ia melanjutkan kunci keamanan pangan kedua yakni menjaga penyimpanan bahan-bahan MBG dengan memisahkan penempatan bahan-bahan segar seperti daging dengan bahan lainnya.

"Kemudian bagaimana proses masaknya, lalu keempat, bagaimana proses pengemasannya karena tidak bisa makanan yang baru saja dimasak langsung ditutup, tetapi dibiarkan agar lebih dingin dulu," ujar dia.

Kunci keamanan pangan kelima, sambung Yudi, yakni memastikan proses distribusi, di mana Badan Gizi Nasional (BGN) telah menetapkan waktu distribusi dari SPPG ke tempat penerima manfaat tidak boleh lebih dari 30 menit.

"Setiap tahapan itu ada risikonya, dan itu kami sampaikan kepada rekan-rekan di SPPG dan BGN untuk dikendalikan risiko-risiko tersebut agar tidak terulang kembali," paparnya.

Berdasarkan Undang-Undang Pangan, keracunan pangan yang ditetapkan menjadi kejadian luar biasa (KLB) yakni ketika ada dua orang yang menderita gejala sama pada saat mengkonsumsi makanan yang sama.

"Jadi itu sudah layak dinyatakan sebagai KLB keracunan pangan, dan rekor yang disampaikan pada saat di Rejang Lebong, Bengkulu, itu ada 470 orang lebih menjadi korban akibat keracunan MBG," tuturnya.

Yudi menjelaskan BPOM sudah mengevaluasi penyebab dari keracunan pangan akibat MBG, yang menunjukkan adanya cemaran atau mikrobiologi berbagai bakteri yang menyebabkan kerusakan pada salah satu organ tubuh penerima manfaat.

"Nah, itu sudah kami sampaikan prosesnya dan bagaimana tahapannya," ucap Yudi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Megapolitan
Warga Bekasi Akan Dihibur B...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.