Sri Mulyani: Konsinyasi Bukan Sekadar Skema, Tapi Penopang Koperasi Kelurahan Merah Putih Banyuanyar Solo
📅 Rabu, 03 Sep 2025, 17:27 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Mohammad Ayudha
JAKARTA – Skema bisnis konsinyasi yang diterapkan di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menjadi strategi untuk memperluas akses pasar bagi produk lokal tanpa membebani modal pelaku usaha kecil.
Melalui sistem ini, produk dititipkan ke koperasi untuk dipasarkan, sementara pembayaran dilakukan setelah barang terjual.
Model tersebut tidak hanya meminimalkan risiko bagi produsen, tetapi juga memperkuat peran koperasi sebagai agregator sekaligus etalase kolektif produk desa.
Dengan begitu, konsinyasi di Kopdes Merah Putih berpotensi meningkatkan daya saing UMKM desa, memperlancar arus distribusi, dan menciptakan ekosistem bisnis yang lebih inklusif.
Koperasi Kelurahan Merah Putih Banyuanyar, Solo, Jawa Tengah berharap agar skema bisnis konsinyasi, sebuah model kerja sama ketika barang disiapkan langsung oleh BUMN dan dibayar setelah laku terjual, bisa dilanjutkan guna mengatasi keterbatasan modal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih Banyuanyar Sri Mulyani, Rabu (3/9), mengatakan saat ini koperasi tersebut tidak bisa memesan barang dalam jumlah barang karena keterbatasan dana.
Menurut Sri, pada awal peluncuran, koperasi mendapatkan dukungan pasokan barang dari berbagai BUMN seperti Bulog, ID Food, Pertamina, dan Pupuk Indonesia. Skema konsinyasi yang diterapkan saat itu memungkinkan koperasi untuk menjual barang tanpa perlu membeli stok terlebih dahulu.
“Tapi setelah itu, skema konsinyasi hanya berlaku untuk mock-up (percontohan) kemarin. Jadi kami itu masih terkendala dalam pengadaan barangnya,” kata Sri Mulyani.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sri menuturkan koperasi yang kini memiliki sekitar 70 anggota ini masih bergantung pada modal awal dari simpanan wajib dan pokok anggota yang jumlahnya masih kecil. Dengan skema konsinyasi, koperasi sempat mendapatkan keuntungan sekitar Rp1 juta pada Juli lalu.
"Kami pikir kalau skema konsinyasi ini berlangsung sampai enam bulan, kami bisa punya modal cukup untuk beroperasi secara mandiri," ujar Sri.
Namun, sekarang koperasi harus menyiapkan dana sendiri untuk memesan barang. Kondisi ini menjadi kendala besar, terutama untuk komoditas seperti pupuk dan LPG yang membutuhkan modal besar.
"Kalau kami mau order lagi, kami harus menyiapkan dana. Kami agak bingung karena dananya masih belum cukup," ujarnya.
"Katakanlah ada uang sekitar Rp3 juta. Kami bingung mau dibelikan apa dulu. Kayak pupuk itu kemarin mau dikirim 8 ton, tetapi kami enggak ada uangnya kalau segitu,” katanya lagi.
Koperasi Kelurahan Merah Putih Banyuanyar saat ini memiliki empat gerai yang terdiri dari gerai sembako, LPG, kios pupuk, dan apotek desa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!