Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemerintah dan DPR Harus Selesaikan Inti Masalah Bukan Tindakan Simbolis

📅 Rabu, 03 Sep 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah dan DPR Harus Selesaikan Inti Masalah Bukan Tindakan Simbolis Doc: istimewa
Ket. Stabilitas Nasional - Pemberhentian Anggota DPR Tidak Serta Merta Selesaikan Masalah

JAKARTA - Respon Pemerintah, DPR dan Partai Politik pasca demonstrasi besar-besaran yang berakhir dengan kerusuhan dan penjarahan dinilai belum substantif menyentuh permasalahan bangsa saat ini. Respon yang ditunjukkan ke publik lebih pada upaya meredakan kemarahan masyarakat agar skalanya tidak semakin meluas, bukan mengatasi persoalan yang membebani bangsa. 

Pengamat ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko di Yogyakarta, Selasa (2/9) menilai penonaktifan beberapa anggota DPR tidak serta-merta menyelesaikan akar persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.

“Jangan hanya yang keseleo lidah diberi sanksi oleh Partai Politik dengan pencabutan keanggotaan, tetapi rombongan Komisi XI DPR yang plesiran ke Australia juga harus diberi sanksi. Terlepas dari semua sikap pamer, flexing dari anggota DPR itu kalau hanya berhenti di pemecatan, itu tidak menyentuh inti masalah,” kata Aditya.

Menurut Aditya, masalah mendasar yang perlu segera diselesaikan Pemerintah adalah kondisi ekonomi yang kian menekan rakyat. Ia menekankan pada empat hal utama dalam perekonomian nasional yang harus segera dicari solusinya. Masalah itu antara lain, inflasi yang jauh di atas kenaikan upah minimum regional (UMR), sulitnya lapangan kerja, meningkatnya pengangguran, serta penerimaan negara yang bertumpu pada pajak tersembunyi.

“Ekonomi yang terlihat tinggi bukan karena daya beli masyarakat naik, melainkan karena pajak siluman yang justru membebani rakyat. Pemerintah harus menciptakan lapangan kerja nyata, bukan sekadar mengandalkan kenaikan UMR yang tidak sebanding dengan inflasi,” papar Aditya.

Pemerintah jelasnya tidak boleh berhenti pada tindakan simbolis terhadap individu anggota dewan yang kemudian membuat rakyat sebagai konstituen marah atas sikap dan perilaku mereka yang mengabaikan amanah.

“Kalau persoalannya dibiarkan hanya sebatas pemecatan, rakyat tetap akan merasa dikhianati karena penderitaan sehari-hari mereka tidak pernah dijawab dengan kebijakan nyata yang mengubah tingkat kehidupan mereka,” kata Aditya. 

Kenaikan PPN

Sementara itu, Peneliti Ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan penonaktifan beberapa anggota DPR RI dari parlemen tidak menjawab substansi dari aksi demonstrasi masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.

Selain karena kurangnya kepekaan terhadap masalah yang dialami rakyat, Pemerintah selama ini katanya tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi, padahal masalah perut ini sangat sensitif.

“Kebijakan yang dibuat tidak mengedepankan kepentingan masyarakat luas. Masyarakat itu marah, kecewa terhadap kebijakan ekonomi dan lainnya yang menyampingkan kepentingan masyarakat luas,” tegas Huda.

Huda mencontohkan rencana kembali menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di saat ekonomi nasional sedang lesu. Pemerintah seperti menutup mata dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dimana-mana dan masyarakat sulit mendapatkan pekerjaan, tetapi di saat yang bersamaan terkesan hendak memaksakan kenaikan tarif pajak. Bahkan, di beberapa daerah, Pemerintah Daerah seperti tidak terkontrol menaikkan tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Kasus di Pati dan Cirebon misalnya, mendapat penolakan yang begitu luas dari masyarakat.

Belum lagi terkait dengan pernyataan Pemerintah bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja, tumbuh di tengah ketidakpastian global, tetapi yang dirasakan masyarakat tidak sesuai dengan retorika yang dibangun Pemerintah.

“Jadi, sudah tidak diperhatikan, yang ada justru dihiraukan, kenyataan hidup masyarakat tidak dianggap. Padahal, akar masalah kemarin adalah di masalah ekonomi, masalah bagaimana masyarakat dapat menyambung hidup,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Pemerintah Perlu Fokus Perc...

UMKM Didorong Tembus Rantai Global

22 menit yang lalu | Lukman

Nasional
UMKM Didorong Tembus Rantai...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.