Gubernur ke Rumah Duka Andika Lutfi, Tapi Kok Tidak Menjanjikan Apa-apa Ya, Termasuk Wapres. Usut Kekerasan Aparat atas 10 Korban Jiwa
📅 Rabu, 03 Sep 2025, 00:56 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
TANGERANG – Tidak seperti pejabat-pejabat yang berkunjung ke rumah duka korban tewas akibat aksi massa selama ini, yang banyak menjanjikan berbagai sumbangan, begitulah yang tersirat dalam kunjungan ke korban unjuk rasa, Andika Lutfi.
Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Andika Lutfi Falah, pelajar SMK di Kabupaten Tangerang yang meninggal setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Dr Mintohardjo, Jakarta, usai mengikuti aksi demonstrasi di depan Gedung DPR. “Saya menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya ananda Andika Lutfi Falah. Kami sampaikan duka cita yang mendalam untuk keluarga. Semoga almarhum husnul khatimah,” kata Gubernur Andra Soni dalam keterangannya di Kota Serang, Selasa.
Andra Soni bersama Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengunjungi rumah duka di Puri Bidara Permai, Tigaraksa, Tangerang, Selasa. Andra berharap peristiwa seperti ini tidak terulang. “Kita berharap kejadian seperti ini tidak terulang. Kami juga mengimbau kepada anak-anak dan masyarakat agar tetap tenang, beraktivitas seperti biasa. Mari sama-sama berdoa semoga kondisi tetap tertib, aman, dan damai di Provinsi Banten,” kata Gubernur Andra Soni.
Ia juga menegaskan kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berlangsung secara tatap muka untuk mengontrol kehadiran siswa. “Sekolah di Provinsi Banten dilaksanakan secara offline. Tujuannya untuk memantau kehadiran anak saat jam pelajaran serta berkomunikasi dengan orang tua jika anak tersebut tidak ada di sekolah,” ujar Andra Soni. Selain Gubernur, hadir pula Kapolda Banten Brigjen Pol Hengki, Ketua DPRD Banten Fahmi Hakim, dan Bupati Tangerang Maesyal Rasyid. Namun di antara para pejabat, Antara, tidak menyebutkan sumbangan-sumbangan untuk keluarga korban. Padahal di tempat lain berbeda. Para pejabat menjanjikan banyak hal.
10 Korban
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendorong adanya penegakan hukum bagi korban aksi demonstrasi di Jakarta dan berbagai daerah, termasuk sepuluh korban jiwa dan korban luka-luka lainnya. “Kami juga ingin mendorong aparat penegakan hukum untuk melakukan proses penegakan hukum, terutama bagi para korban yang meninggal dunia dan mengalami luka-luka yang diduga itu disebabkan oleh kekerasan aparat,” ucap Ketua Komnas HAM Anis Hidayah di Jakarta, Selasa.
Anis mengatakan sejauh ini tercatat ada sepuluh korban jiwa dalam unjuk rasa menolak tunjangan anggota DPR. Korban tewas tersebar di berbagai daerah, termasuk Jakarta, Yogyakarta, Solo, Makassar, Semarang, dan Manokwari. Dia memerinci kesepuluh korban jiwa tersebut adalah Affan Kurniawan (Jakarta), Andika Lutfi Falah (Tangerang), Rheza Sendy Pratama (Yogyakarta), Sumari (Solo), dan Saiful Akbar (Makassar).
Kemudian, Muhammad Akbar Basri (Makassar), Sarinawati (Makassar), Rusmadiansyah (Makassar), Iko Juliant Junior (Semarang), dan Septinus Sesa (Manokwari, Papua Barat). Anis mengatakan Komnas HAM masih menyelidiki tewasnya kesepuluh orang tersebut. Dugaan sementara penyebab para korban tewas karena kekerasan aparat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!