Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pacu Jalur vs Dragon Boat: Beda Format, Satu Ruh Sungai

📅 Senin, 01 Sep 2025, 11:55 WIB | Oleh: Tim Penulis


Momentum pembinaan

Prestasi di Chengdu harus dibaca lebih jauh daripada sekadar angka medali. Tiga emas dan dua perak adalah bukti kapasitas, tetapi pertanyaan besarnya: bagaimana mempertahankan dan mengembangkannya? Di sinilah pacu jalur dan festival serupa memainkan peran penting. Ini bukan lagi perayaan budaya, tapi ekosistem pembinaan.

Bayangkan jika setiap festival dayung tradisional, seperti pacu jalur di Riau, lomba perahu naga di Kalimantan, hingga tradisi serupa di Sulawesi, diberi wadah pembinaan yang terstruktur.

Dengan dukungan teknologi latihan modern, pemanduan bakat, serta jalur menuju tim nasional, Indonesia berpeluang melahirkan generasi atlet dayung yang tangguh dan konsisten bersaing di level dunia.

Pencapaian dragon boat di World Games 2025 mengingatkan pada pola yang sama di cabang lain. Silat, misalnya, yang berakar dari budaya Nusantara lalu dipoles menjadi cabang olahraga internasional, dan bahkan sedang diupayakan untuk bisa dipertandingkan di Olimpiade Los Angeles 2028.

Hal yang sama kini terjadi dengan dayung. Bedanya, perahu naga sudah mapan sebagai cabang global, tinggal bagaimana Indonesia memastikan tradisi pacu jalur tetap menjadi fondasi identitas.

Bukan semata soal teknik, melainkan soal narasi. Dunia kini mengenal istilah aura farming sebagai bagian dari pacu jalur. Bila narasi ini dikaitkan secara konsisten dengan prestasi perahu naga, maka Indonesia akan memiliki keunggulan ganda dari prestasi olahraga sekaligus nilai budaya.

Seperti halnya gerakan Rayyan yang penuh aura, keberhasilan perahu naga Indonesia di World Games 2025 adalah sinyal optimisme. Namun, aura itu harus dirawat. Pemerintah, federasi, hingga masyarakat lokal perlu memastikan kesinambungan pembinaan. Tidak cukup berhenti pada euforia viral atau pesta penyambutan juara, perlu desain kebijakan jangka panjang.

Langkah konkret bisa berupa integrasi festival tradisional ke dalam kalender pencarian bakat resmi, pemberian beasiswa olahraga bagi atlet muda daerah, serta peningkatan fasilitas latihan. Selain itu, eksposur media dan budaya pop seperti fenomena aura farming perlu terus diarahkan untuk memperkuat citra dayung Indonesia di mata dunia.

Jika di tepian Sungai Batang Kuantan seorang bocah menari di ujung perahu, di Danau Xinglong sekelompok atlet Indonesia mendayung hingga mengibarkan Merah Putih. Dua peristiwa berbeda, saling bertalian.

Jika pacu jalur adalah akar, maka perahu naga di World Games adalah ranting yang menjalar ke dunia internasional. Dan kini, tanggung jawab bersama adalah memastikan pohon besar itu terus tumbuh berakar di tradisi dan berbuah di prestasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Sekjen PBB Soroti Tantangan Lonjakan Populasi Lansia

31 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Sekjen PBB Soroti Tantangan...
Nasional
Menbud Optimistis Batik Ind...

Janice Tjen Tersingkir dari China Open

57 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Olahraga
Janice Tjen Tersingkir dari...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.