Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Adhiguna Kuncoro, Satu-satunya Peneliti Indonesia di Google DeepMind! dari Gagal di Kuliah hingga Kembangkan AI Dunia

📅 Selasa, 26 Agu 2025, 14:37 WIB | Oleh:
Adhiguna Kuncoro, Satu-satunya Peneliti Indonesia di Google DeepMind! dari Gagal di Kuliah hingga Kembangkan AI Dunia Doc: Instagram Adhiguna Kuncoro
Ket. Kisah Adhiguna Kuncoro, Anak Bangsa di Balik AI Google

Jakarta – Siapa sangka, di balik kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi tulang punggung era digital, ada sosok Adhiguna Kuncoro, peneliti asal Indonesia yang kini menjadi bagian dari tim inti Google DeepMind, divisi riset AI paling bergengsi di dunia.

Sejak 2017, Adhi, begitu ia akrab disapa menjadi satu-satunya peneliti dari Indonesia yang bekerja di DeepMind, London. Ia bukan hanya penonton revolusi AI dunia, tapi turut merancang masa depan lewat pengembangan Gemini, model AI mutakhir yang tengah naik daun.

Kisahnya bermula dari skripsi tentang AI di ITB pada tahun 2013, sebuah topik yang kala itu masih terdengar seperti fiksi ilmiah. “AI waktu itu terasa sangat jauh dan abstrak,” kenangnya.

Setelah lulus, ia melanjutkan studi S2 ke University of Oxford, meski sempat terguncang karena gagal di dua mata kuliah, salah satunya machine learning. Namun justru kegagalan itu menjadi bahan bakar untuk bangkit.

“Kalau mau jadi pakar AI, harus bisa melewati tantangan itu,” ujar Adhi dalam wawancara dengan BBC Indonesia.

Tak berhenti di Oxford, Adhi memperkuat fondasinya di Carnegie Mellon University (CMU), AS, kampus top dunia dalam riset AI, hingga meraih dua gelar Master of Science. Lalu kembali lagi ke Oxford untuk menempuh studi doktoral dengan beasiswa penuh, dan akhirnya bergabung dengan DeepMind.

Menurut Marc’Aurelio Ranzato, Direktur Ilmuwan Riset DeepMind, Adhi dipilih karena keahliannya yang mendalam di bidang Natural Language Processing (NLP) komponen utama dalam pengembangan Large Language Model (LLM).

Kini, Adhi aktif mengembangkan Gemini agar lebih cerdas, efisien, dan inklusif, termasuk mampu memahami bahasa-bahasa lokal. “Kalau mau AI paham bahasa Indonesia atau bahasa daerah, kita harus latih dengan data dari bahasa tersebut,” jelasnya.

Kabar baiknya, pada Oktober mendatang, satu lagi peneliti Indonesia akan bergabung ke DeepMind. Harapan pun tumbuh, akan lebih banyak anak bangsa yang ikut membentuk masa depan teknologi global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

41 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.