Kekaisaran Gupta, Zaman Keemasan India Kuno
📅 Rabu, 20 Agu 2025, 07:37 WIB | Oleh: Haryo BronoKebijaksanaan dan visi yang luar biasa ditunjukkan dalam pemerintahan kekaisaran yang luas. Efisiensi sistem militer mereka sudah teruji. Kerajaan yang besar itu dibagi menjadi pradesha (provinsi) yang lebih kecil dan kepala-kepala administrasi ditunjuk untuk mengurusnya. Para raja menjaga disiplin dan transparansi dalam proses birokrasi.
Hukum pidana ringan, hukuman mati jarang terdengar, dan penyiksaan hukum tidak dilakukan. Fa Hien menyebut kota Mathura dan Pataliputra sebagai kota yang indah, dengan Pataliputra digambarkan sebagai kota bunga. Orang-orang dapat bergerak bebas. Hukum dan ketertiban berlaku dan, menurut Fa Hien, insiden pencurian dan perampokan jarang terjadi.
Hal-hal berikut juga menunjukkan kehati-hatian raja-raja Gupta. Samudragupta memperoleh wilayah India selatan yang jauh lebih luas daripada yang ingin ia masukkan ke dalam kekaisarannya. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus, ia mengembalikan kerajaan kepada raja-raja aslinya dan hanya puas dengan memungut pajak dari mereka.
Kemunduran Kekaisaran
Sebaiknya Anda baca juga:
Setelah kematian ayahnya, Chandragupta II, Kumaragupta I (sekitar 415 – 455 M) memerintah kekaisaran yang luas dengan keterampilan dan kemampuan. Ia mampu menjaga perdamaian dan bahkan menangkis tantangan berat dari suku yang dikenal sebagai Pushyamitra. Ia dibantu oleh putranya yang cakap, Skandagupta (455 – 467 M), yang merupakan penguasa berdaulat terakhir dari Dinasti Gupta.
Ia juga berhasil mencegah invasi bangsa Hun (Hephthalites). Skandagupta adalah seorang cendekiawan besar dan penguasa yang bijaksana. Demi kesejahteraan penduduknya, ia melaksanakan beberapa pekerjaan konstruksi, termasuk pembangunan kembali bendungan di Danau Sudarshan, Gujarat. Namun, ini adalah masa-masa terakhir kejayaan kekaisaran.
Setelah kematian Skandagupta, dinasti tersebut terlibat dalam konflik domestik. Para penguasa tidak memiliki kemampuan seperti kaisar-kaisar sebelumnya untuk memerintah kerajaan sebesar itu. Hal ini mengakibatkan kemunduran hukum dan ketertiban. Mereka terus-menerus diganggu oleh serangan bangsa Hun dan kekuatan asing lainnya. Hal ini menggerogoti kesejahteraan ekonomi kekaisaran.
Selain itu, para raja lebih sibuk memanjakan diri daripada bersiap menghadapi tantangan musuh-musuh mereka.
Bangsa Hun kemudian kembali menghantui kekaisaran dan akhirnya menutup kerajaan yang gemilang ini pada sekitar tahun 550. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!