Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harapan Baru bagi Masa Depan Kedokteran Regeneratif

📅 Kamis, 25 Jun 2026, 07:19 WIB | Oleh:
Harapan Baru bagi Masa Depan Kedokteran Regeneratif Doc: Foto: Simon Zernicki-Glover
Ket. Profesor Magdalena Zernicka-Goetz, ahli biologi perkembangan dari University of Cambridge yang memimpin salah satu penelitian tersebut, mengatakan bahwa model embrio sintetis memungkinkan para ilmuwan mengamati proses perkembangan awal manusia yang selama ini hampir mustahil dipelajari secara langsung.

EVERY DAY ribuan pasien di seluruh dunia menunggu donor organ yang belum tentu tersedia tepat waktu. Sebagian membutuhkan ginjal baru untuk bertahan hidup, sementara yang lain menanti jantung atau hati pengganti yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding kebutuhan. Di tengah tantangan tersebut, perkembangan embrio sintetis dan teknologi sel punca mulai membuka peluang baru bagi dunia kedokteran regeneratif.

Meski masih berada pada tahap penelitian dasar, para ilmuwan meyakini bahwa pemahaman yang diperoleh dari studi embrio sintetis dapat membantu menciptakan jaringan dan organ tubuh manusia di laboratorium. Jika berhasil dikembangkan, teknologi ini berpotensi memperbaiki organ yang rusak, menggantikan jaringan yang hilang, dan mengurangi ketergantungan terhadap donor organ.

Embrio sintetis memungkinkan para peneliti mempelajari tahap paling awal pembentukan tubuh manusia, yaitu ketika sel-sel mulai menerima “instruksi biologis” untuk berkembang menjadi berbagai organ seperti jantung, otak, paru-paru, dan ginjal.

“Untuk membangun organ di laboratorium, pertama-tama kita harus memahami bagaimana alam membangunnya,” kata Profesor Jacob Hanna dari Weizmann Institute of Science, Israel, salah satu pelopor penelitian model embrio sintetis.

Selama ini, para ilmuwan telah mengetahui bahwa sel punca mampu berkembang menjadi hampir semua jenis sel dalam tubuh. Namun, memahami bagaimana miliaran sel tersebut menyusun diri menjadi struktur organ yang kompleks masih menjadi tantangan besar. Karena itu, embrio sintetis dianggap sebagai “buku petunjuk biologis” yang dapat membantu mengungkap proses tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti juga berhasil mengembangkan organoid, yaitu organ mini yang menyerupai otak, hati, usus, atau ginjal. Namun, organoid masih memiliki keterbatasan karena belum mampu meniru kompleksitas organ manusia secara utuh. Model embrio sintetis dinilai lebih menjanjikan karena memungkinkan ilmuwan mengamati bagaimana berbagai jaringan tubuh terbentuk dan berinteraksi sejak tahap paling awal.

Potensi teknologi ini sangat besar, terutama untuk mengatasi krisis donor organ. Dengan memanfaatkan sel punca milik pasien sendiri, para ilmuwan berharap suatu saat dapat menghasilkan jaringan pengganti yang memiliki risiko penolakan lebih rendah oleh sistem kekekalan tubuh.

Profesor Magdalena Zernicka-Goetz dari University of Cambridge menyebut perkembangan embrio sebagai “cetak biru” bagi seluruh tubuh manusia. Menurutnya, memahami proses tersebut dapat memberikan petunjuk penting mengenai cara membangun jaringan yang sehat dan berfungsi normal.

Selain transplantasi organ, penelitian ini juga berpotensi membantu penanganan penyakit degeneratif seperti Parkinson, Alzheimer, diabetes tipe 1, gagal jantung, hingga cedera tulang belakang. Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa sel punca dapat digunakan untuk menghasilkan sel saraf, sel otot jantung, dan sel penghasil insulin yang berpotensi menjadi terapi masa depan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, kanker, dan diabetes masih menjadi penyebab utama kematian global. Karena itu, teknologi yang mampu memperbaiki atau mengganti jaringan tubuh yang rusak dinilai memiliki dampak kesehatan yang sangat besar. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
  • Kartu Transportasi Bersubsidi Bocor, DPRD DKI Minta Data Diperketat
    Preview komentar:
    Membaca sorotan DPRD DKI mengenai kebocoran kartu transportasi ...
  • XLSMART Berhasil Raih Kinerja Solid Semester I 2026.
    Preview komentar:
    Keberhasilan XLSMART dalam memperluas cakupan 5G hingga 52 ...
Nasional
Korps Marinir Uji Roket MLR...

PBB: Tingkat Pengangguran Kaum Muda Dunia Meningkat

54 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
PBB: Tingkat Pengangguran K...
Persija dan Dewa United Jadi Lawan Brisbane Roar saat Tur Pramusim di Indonesia

Persija dan Dewa United Jadi Lawan Brisbane Roar saat Tur Pramusim di Indonesia

12 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.