Peringatan HUT Ke-80 RI, Pejabat Tinggi Kejati Jateng Turun Langsung Jadi Petugas Upacara
📅 Minggu, 17 Agu 2025, 18:43 WIB | Oleh: Henri pelupessyMenurutnya, Integritas adalah ketika ucapan dan perbuatan menyatu dalam satu kata. Upacara ini adalah refleksi, bahwa pejabat negara harus hadir tidak hanya dengan kebijakan, tetapi juga dengan keteladanan.
“Jawa Tengah itu punya tagline Jaksa Guyub dan guyub itu harus dimulai dari pemimpin. Seorang leader harus berani memberi contoh kepada anak buahnya. Kami ingin memberi teladan bahwa kemerdekaan adalah amanat, dan semua pejabat punya kewajiban moral untuk menegakkannya,” tegas Hendro Dewanto usai upacara.
Simbol Kebersamaan dan Teladan
Suasana khidmat semakin terasa ketika Asintel Freddy Simanjuntak, membacakan Pembukaan UUD 1945 dengan suara mantap. Lalu, Aswas Gatot Guno Sembodo mengucapkan Tri Krama Adhyaksa, janji moral kejaksaan. Disusul Kabag TU Deddy Agus Oktavianto yang membacakan Trapsila Adhyaksa Berakhlak, sembari para peserta menundukkan kepala penuh khidmat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Puncak momen hadir saat bendera Merah Putih perlahan naik ke puncak tiang. Tiga pengibar bendera yakni Satriyo Wibowo, Sandhy Handika dan Ashari Kurniawan, dengan langkah pasti melaksanakan tugas pengibaran.
Detik-detik itu membuat suasana seolah berhenti. Semua mata menatap ke atas, mengikuti kain merah-putih yang berkibar anggun, diiringi gema lagu kebangsaan "Indonesia Raya".
Keterlibatan pejabat tinggi sebagai petugas upacara jelas bukan hal lazim. Namun, justru di situlah pesan kuat tersampaikan, jabatan bukan alasan untuk sekadar memberi perintah dari belakang, melainkan teladan yang ditunjukkan dari barisan depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Aspidsus Lukas mengatakan, sesuai perintah dan arahan Kajati, bahwa kita memang sebagai senior pun harus bisa mengayomi, menjiwai, jiwa nasionalisme dan rasa kemerdekaan itu sendiri.
Bagi banyak peserta, momen ini terasa menggugah. "Kami bangga melihat para pimpinan tidak hanya memimpin dengan kata-kata, tetapi juga memberi contoh nyata dalam upacara sakral kemerdekaan," ungkap salah seorang jaksa muda yang hadir.
Upacara ini menjadi cermin bahwa semangat kemerdekaan tak boleh berhenti pada generasi 1945. Justru di era modern, di tengah derasnya arus digitalisasi dan kompleksitas tantangan hukum, semangat persatuan dan pengorbanan harus dihidupkan kembali,bahkan dari lembaga penegak hukum.
“Kemerdekaan adalah hasil darah dan air mata. Tugas kita sekarang menjaga nilai-nilainya yakni, kejujuran, keberanian, dan integritas. Itu sebabnya kami hadir langsung sebagai petugas, agar api nasionalisme tak pernah padam,” tegas Kajati Hendro.
Pagi itu, halaman Kejati Jateng bukan hanya menjadi tempat upacara, melainkan panggung kebersamaan, refleksi, dan inspirasi.
Dari Semarang, pesan moral dikibarkan bersama Sang Saka, bahwa kemerdekaan adalah kerja bersama, dan semua pejabat negara adalah prajurit dalam menjaga martabat bangsa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!