Apa Itu Digital Farming yang Kini Dikembangkan BI di Papua Barat
📅 Jumat, 15 Agu 2025, 02:23 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Ini ada istilah baru, digital farming. Kira-kira ini apa pengertiannya. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Papua Barat mengembangkan teknologi pertanian berbasis digital atau digital farming guna meningkatkan produktivitas petani sekaligus menjaga stabilitas harga pangan di daerah.
Deputi BI Perwakilan Papua Barat Arif Rahadian di Manokwari, Kamis, mengatakan program itu dikemas dalam Pelatihan Usaha Tani Berkualitas (Petatas) yang menerapkan good agriculture practices atau praktik pertanian yang baik. "Melalui Petatas, kami melatih petani menggunakan teknologi tepat guna, termasuk mekanisasi berbasis Internet of Things untuk memantau cuaca, hingga kecerdasan buatan dalam pengelolaan lahan," ujar dia.
Ia mengatakan BI bekerja sama dengan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengembangkan model bisnis dan teknologi pertanian yang bisa direplikasi oleh petani di berbagai wilayah. Departemen Inklusi Keuangan dan Hijau BI pusat, sudah membuat berbagai macam penelitian model bisnis yang memang bisa direplikasi di daerah.
“Salah satunya adalah digital farming, sehingga kita dorong penerapannya di Papua Barat melalui sejumlah proyek percontohan untuk mengukur efektivitas teknologi tersebut dalam meningkatkan hasil panen,” katanya. Menurut dia, inovasi ini akan membantu mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah yang kerap memicu fluktuasi harga akibat cuaca dan biaya logistik tinggi.
Berdasarkan data BI, inflasi Papua Barat pada Juli 2025 tercatat 1,2 persen month-to-month (mtm), meningkat dibanding Juni sebesar 0,58 persen, dipicu kenaikan harga komoditas hortikultura akibat curah hujan tinggi. Namun, tingkat inflasi tahunan (year-on-year), inflasi di Papua Barat sebesar 0,43 persen, jauh di bawah target nasional 2,5 persen lebih kurang 1 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Angka ini rendah, tapi tetap perlu diwaspadai. Inflasi yang terlalu rendah berisiko menahan investasi dan melemahkan pertumbuhan ekonomi," kata Arif. Pengendalian inflasi memerlukan sinergi seluruh pihak melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), sekaligus mendorong masyarakat untuk menjadi produsen pangan, bukan hanya konsumen, katanya, menegaskan.
Selain itu, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Papua Barat, juga menggandeng Pemerintah Kabupaten Manokwari memberikan edukasi kepada kalangan pelajar serta kelompok masyarakat terkait inflasi dan pemahaman ke-bank sentral-an melalui Program Torang Locavore 2025.
Deputi BI Kantor Perwakilan Papua Barat Arif Rahadian di Manokwari, Kamis, mengatakan Torang Locavore tahun ini memadukan dua program utama, yakni Edukasi ke-bank sentral-an dan Stabilitas Harga (Esensi) kepada siswa SMA/SMK, serta Desa Peduli Inflasi (Salin) yang menyasar kelompok dasawisma.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami ingin pelajar memahami inflasi sejak dini, karena mereka kelak akan berperan di masyarakat. Begitu juga kelompok dasawisma, agar mampu mengelola pangan rumah tangga melalui urban farming, sehingga bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan menambah penghasilan,” ujar Arif saat Kickoff Torang Locavore 2025.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!