Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Melindungi Bentang Laut Sunda Kecil untuk Indonesia dan Dunia

📅 Kamis, 07 Agu 2025, 14:50 WIB | Oleh:
Melindungi Bentang Laut Sunda Kecil untuk Indonesia dan Dunia Doc: ANTARA/M Risyal Hidayat
Ket. Ketua Adat Kampung Friwen Derek Wawiyai (kanan) bersama warga melakukan ritual adat sebelum pelepasan penambat (mooring) di perairan Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Jakarta -- Para pejabat senior dunia baru saja menghadiri Konferensi Kelautan PBB (UNOC) ketiga di Nice, Prancis, pada 9-13 Juni 2025.

Konferensi itu dimaksudkan untuk mencapai rancangan perjanjian demi meningkatkan perlindungan laut yang lebih ambisius, melalui kerja sama multilateral.

Tujuan UNOC3, di antaranya berupaya memobilisasi sumber pendanaan dengan tujuan melestarikan dan menggunakan sumber daya kelautan secara berkelanjutan dan memperkuat serta menyebarluaskan pengetahuan terkait ilmu kelautan, sehingga menghasilkan kebijakan yang mendukung perlindungan laut.

Di Indonesia, upaya-upaya yang sejalan dengan ambisi dalam UNOC3 terus menerus dilakukan, mulai dari pembentukan kawasan konservasi perairan, seperti di Pulau Wetar (Provinsi Maluku); Belu (Provinsi Nusa Tenggara Timur); dan Teluk Saleh (Provinsi Nusa Tenggara Barat), hingga inisiatif pengelolaan laut antarnegara di level bentang laut (seascape).

Pengelolaan seascape (lanskap laut) dimulai pada 2024, melalui Proyek Solusi untuk Ketahanan Pesisir dan Laut di Segitiga Karang (SOMACORE).

Proyek ini merupakan kelanjutan dari inisiatif kerja sama multilateral Coral Triangle Initiative (CTI) yang diluncurkan tahun 2009 oleh para pemimpin negara dalam acara World Ocean Conference (WOC) di Manado.

Inisiatif ini bertujuan untuk menjaga wilayah Segitiga Terumbu Karang bersama negara-negara lain, seperti Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.

Segitiga Terumbu Karang merupakan sumber daya paling berharga bagi jutaan orang yang tinggal di wilayah pesisir dan sekitarnya.

Hal itu, karena kawasan tersebut menyediakan sumber daya perikanan sebesar lebih dari USD3 miliar dan hasil tangkapan tuna senilai USD1,5 miliar.

Kawasan itu mendorong kemakmuran dengan menyumbang USD1,2 triliun dalam bentuk produk domestik bruto (PDB) dan menghasilkan lebih dari USD24,7 miliar dalam pariwisata berbasis alam dan petualangan.

Di wilayah Segitiga Terumbu Karang, terdapat tiga bentang laut, yaitu Bentang Laut Sulu-Sulawesi (SSS) meliputi antara laut Filipina, Malaysia, dan Indonesia di sisi utara Kalimantan dan Kalimantan Timur di Derawan; Bentang Laut Bismarck Solomon Seas (BSS) yang membentang dari Kepala Burung Papua, Papua Nugini, hingga Solomon Island; dan Bentang Laut Sunda Kecil (BLSK).

Bentang laut yang disebut terakhir menjadi salah satu prioritas konservasi. Alasannya, BLSK memiliki keanekaragaman terumbu karang yang sangat kaya, termasuk habitat unik.

Bentang ini menjadi wilayah yang mendukung berbagai fase kehidupan spesies laut, termasuk migrasi marine megafauna; area pemijahan, mencari makan, serta area asuhan ikan karang dan ikan pelagis; dan daerah yang kaya akan nutrien karena fenomena upwelling, yaitu fenomena alam di mana air laut dari lapisan dalam yang kaya nutrien naik ke permukaan.

Melindungi BLSK

Sebaiknya Anda baca juga:

Bagaimana melindungi BLSK dapat mendukung ambisi Indonesia mencapai target 30 persen perlindungan laut nasional pada 2045?

Sebagaimana ditegaskan kembali oleh Direktur Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Firdaus Agung dalam UNOC3, 10 Juni 2025, Indonesia ingin memenuhi target melindungi 30 persen laut dunia pada 2030 yang mencakup kawasan konservasi laut hingga lebih dari 97 juta hektare, dibanding saat ini 14,4 juta ha.

BLSK adalah wilayah perairan seluas lebih dari 35 juta ha dan hampir 11 ribu kilometer garis pantai yang mencakup Provinsi Bali, NTB, NTT, dan sebagian Kabupaten Maluku Barat Daya di Pulau Wetar, hingga Timor Leste, dan menjadi salah satu ecoregion paling kaya di kawasan timur Indonesia.

Dari hasil kajian pakar kelautan, Kawasan BLSK menduduki peringkat ketiga dalam keankearagaman hayati laut dan spesies endemik, setelah Papua dan Laut Banda.

BLSK memiliki ekosistem terumbu karang dengan resiliensi yang sangat tinggi (nomor 5 dari 50 BCU/biological climate unit), punya potensi perikanan tangkap dan rumput laut yang cukup besar, dan memiliki potensi pemanfaatan pariwisata bahari yang cukup potensial, terutama untuk aktivitas diving.

Bentang laut ini dilintasi oleh spesies karismatik Pygmy Blue Whale (Paus Biru Kerdil) yang wilayah migrasinya sangat luas dan memiliki peran krusial dalam menyuburkan laut serta menyerap karbon.

Karena itu, inisiatif pertama yang sedang dikerjakan untuk BLSK, yaitu mendorong kolaborasi marine migratory species atau perlindungan spesies bermigrasi laut.

Paus Biru Kerdil yang bermigrasi dari Australia, melewati Laut Sawu, Selat Ombai, dan berenang ke Pulau Banda, di utara Pulau Seram, hingga Papua, memiliki peran krusial dalam menyuburkan laut dan menyerap karbon.

Selain itu, area yang dilintasi Pygmy Blue Whale untuk bermigrasi di NTT, khususnya di Laut Sawu hingga Selat Ombai, merupakan jalur pelayaran yang sibuk.

Sementara spesies ini sangat rentan terhadap suara kapal, ditambah lagi aktivitas eksplorasi minyak dan gas bumi, yang memunculkan tantangan tersendiri.

Inisiatif kedua, yaitu pengelolaan kolaboratif sumber daya perikanan (fisheries collaborative management) di Selat Ombai, yang menghubungkan perairan Indonesia dan Timor Leste.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

38 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Nasional
Tanggapan Istana Usai Wamen...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.