Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menilik Potensi Jumbo Pariwisata Musik Nasional

📅 Sabtu, 02 Agu 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Potensi nyata yang mulai digarap

Indonesia tengah berada di jalur yang tepat untuk menjadikan pariwisata musik sebagai kekuatan pariwisata nasional. Salah satu contohnya adalah Prambanan Jazz Festival (PJF), yang rutin digelar di pelataran Candi Prambanan. Sejak digelar pertama kali pada 2015, PJF tak hanya menjadi konser tahunan, tapi juga destinasi wisata dan warisan budaya.

Fenomena music tourism ini sebenarnya bukan hal baru di dunia global. Tapi di Indonesia, potensinya baru tergali. Pasca pandemi Covid-19, tiket-tiket konser selalu ludes terjual.

Bukan hanya pengunjung lokal, wisatawan mancanegara pun mulai melirik agenda musik kita. Potensi yang besar ini tak semata diukur dari jumlah penonton atau artis yang tampil, melainkan dari dampak jangka panjang yang bisa dihasilkan.

Karena itu, baik pemerintah dan seluruh pihak terkait perlu merancang strategi jangka panjang dan perencanaan adaptif. Dibutuhkan sinergi lintas sektor untuk menjadikan pariwisata musik sebagai bagian dari agenda strategis pariwisata nasional.

Menembus lintas usia dan generasi

Kini, musik bukan hanya untuk didengar, tapi juga dialami. Festival dan konser bukan hanya sebagai panggung pertunjukan, tapi juga menjadi ruang berbagi emosi dan kenangan kolektif.

Inilah yang disebut sebagai konsep The experience economy dalam buku klasik Pine & Gilmore, di mana orang lebih tertarik membeli pengalaman, bukan sekadar barang atau jasa.

Dalam konteks pariwisata, ini berarti wisatawan mencari momen yang berkesan dan membekas. Musik menjadi instrumen yang cocok untuk menggapai hal tersebut. Sebab musik mampu menyentuh emosi, memicu nostalgia, dan membangun hubungan sosial.

Lihat saja Prambanan Jazz Festival 2025. Di satu panggung, tampil legenda seperti Ebiet G. Ade, Atiek CB, Kahitna. Tapi di sisi lain hadir musisi muda seperti Dere, Yura dan Kunto Aji.

Penontonnya pun lintas generasi—dari Gen Z hingga Silver Generation. Justru pertemuan lintas generasi dan genre inilah yang membuat pengalaman menjadi semakin kaya. Festival menjadi ruang pertemuan budaya dan lintas zaman.

Lebih dari itu, festival juga mengangkat destinasi. Candi, hutan dan tepi pantai bukan hanya latar, tapi bagian dari pengalaman itu sendiri. Ketika jazz bertemu kemegahan candi, atau musik indie mengalun di tengah hutan pinus, terciptalah suasana yang autentik dan tak tergantikan.

Manfaat ekonomi dan sosial

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank
    Preview komentar:
    Ini sudah masuk kategori -menghalang-halangi penyampaian pendapat- atau ...
  • Kemenperin Ajak IKM Jadi Pemasok Industri Kendaraan Listrik Nasional
    Preview komentar:
    Langkah Kemenperin yang menjembatani kebutuhan OEM dengan kapasitas ...
  • Bukan Sekadar Hobi, Industri Modifikasi Otomotif jadi Bagian Ekraf, Ciptakan Nilai Tambah Ekonomi
    Preview komentar:
    Langkah kolaboratif antara NMAA, IMI, dan pemerintah ini ...

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

8 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Daerah
BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susu...
Nasional
DPR Dorong Pemerintah Buka ...
Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

24 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.