RI Tidak Nikmati Peningkatan PDB di OECD, Jika Lamban Sesuaikan Regulasi
📅 Kamis, 31 Jul 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiSementara itu, Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Y. Sri Susilo, menilai bahwa keanggotaan Indonesia di OECD merupakan peluang strategis yang tidak boleh disikapi lamban. Namun, adaptasi harus berlangsung cepat jangan sampai bekerja as ussual karena ini situasi yang sulit.
“Kalau kita terlalu birokratis dan lambat menyesuaikan diri, maka peluang ini hanya akan jadi label simbolik, bukan pengungkit riil bagi ekonomi,” katanya.
Menurut Susilo, yang paling mendesak adalah penyesuaian cepat dalam regulasi ekspor, standar keberlanjutan, dan keterbukaan data ekonomi. Ia menekankan bahwa OECD bukan sekadar forum, tapi juga benchmark internasional yang bisa langsung berdampak pada persepsi investor dan mitra dagang.
“Negara lain seperti Kosta Rika bisa langsung menuai peningkatan investasi dan ekspor setelah aksesi. Indonesia harus bergerak cepat agar tidak tertinggal,” katanya
Sebaiknya Anda baca juga:
Keberlanjutan Lingkungan
Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, salah satu yang dia nantikan dalam keanggotaan Indonesia dalam OECD adalah pertumbuhan ekonomi dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“Banyak aturan yang harus direvisi Pemerintah terkait dengan pemeliharaan lingkungan ini. Termasuk soal deforestasi dan polusi udara. Hal itu karena selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang oleh sektor yang belum hijau,”tegasnya.
Ketika belum mampu memberikan perhatian lebih ke lingkungan ujar Huda, akses pasar juga pasti terbatas. Jika tidak ada tindakan apapun dari pemerintah, maka keanggotan OECD hanya sia-sia.
Yang harus diperhatikan papar Huda, bencana akibat kerusakan lingkungan di Tanah Air terus meningkat dari tahun ke tahun. Itu tak terlepas dari kerusakan ekologis.
Akvitas pertambangan menghasilkan daya rusak yang begitu besar terhadap keseimbangan alam. Untuk mengejar pertumbuhan yang berkerlanjutan itu harus dimulai dari bagaimana membatasi bisnis ekstratif yang merusak alam.
Apalagi, tren pasar global ke depan lebih menekankan pada produk-produk ramah lingkungan. Supaya terhindar dari hambatan di pasar ekspor, kualitas ekspor harus ditingkatkan, dengan mengutamakan produk hijau.
Sementara itu, Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Y. Sri Susilo, menilai bahwa keanggotaan Indonesia di OECD merupakan peluang strategis yang tidak boleh disikapi lamban. Namun, adaptasi harus berlangsung cepat jangan sampai bekerja as ussual karena ini situasi yang sulit.
“Kalau kita terlalu birokratis dan lambat menyesuaikan diri, maka peluang ini hanya akan jadi label simbolik, bukan pengungkit riil bagi ekonomi,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!