Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Middle Income Trap Masih Menghantui, IBC Peringatkan Butuh Terobosan Berani

📅 Kamis, 24 Jul 2025, 22:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Middle Income Trap Masih Menghantui, IBC Peringatkan Butuh Terobosan Berani Doc: Antara
Ket. Ilustrasi - Gedung pencakar langit di Jakarta.

JAKARTA – Praktik berkelanjutan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, polusi, dan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

Pemerintah perlu mendorong pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab untuk memastikan ketersediaannya bagi generasi mendatang.

Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk beradaptasi dan mengurangi dampak perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan air laut.

Chief Operating Officer (COO) Indonesian Business Council (IBC) William Sabandar mengatakan satu-satunya cara Indonesia keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap) adalah menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam seluruh praktik pemerintahan.

“Kan Indonesia mau jadi negara maju ya 2045, saya berani banget mengatakan kalau the only way you can keluar dari middle income trap itu if you embrace sustainability dalam praktik-praktik pemerintahan maupun negara,” kata William Sabandar dalam Media Briefing & Talk Show IBC 2025, di Jakarta, Kamis (24/7).

Salah satu upaya penting untuk menerapkan prinsip tersebut ialah melalui pasar karbon yang dianggap sebagai inisiatif pendanaan iklim paling kuat.

Tujuan itu dapat terjadi apabila para pemain di pasar karbon, mulai dari negara, sektor privat, hingga komunitas, diaktifkan dan berkolaborasi satu sama lain.

“Jadi, everybody berpikir bahwa I have the asset, dan gimana aset itu in whatever your capacity sebagai masyarakat, sebagai sebuah society, pemerintah, mencoba mengkapitalisasi itu, dan the only way to capitalise it itu adalah lewat carbon market. Jadi, kalau kita mau be a reachable, we need to build our own carbon market yang credible and internationally recognised,” ujar William.

Dalam kesempatan yang sama, Pendiri dan CEO Fairatmos Natalia Rialucky Marsudi menginginkan adanya pasar karbon yang benar-benar menyambungkan nilai ekonomi kepada seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi, keterbukaan pikiran, dan penerimaan dari seluruh pihak bahwa sektor ini sangat dinamis.

Dia menekankan bahwa pasar karbon tak boleh hanya menjadi sekedar pilihan, tetapi sudah menjadi keharusan setiap pihak melakukan kegiatan yang rendah emisi dengan tetap berorientasi melakukan akselerasi pembangunan ekonomi.

“Apa yang terjadi 10 tahun yang lalu mungkin sudah berbeda dan apa yang terjadi 10 tahun ke depan akan berbeda juga. Tapi, apabila adanya shared commitment dan kepercayaan bahwa memang pasar karbon ini didesain dengan filosofi yang sangat inklusif dan untuk memberikan manfaat bagi semua lapisan masyarakat, (maka) cita-citanya dan harapannya supaya kolaborasi itu betul-betul terjadi,” ujar Natalia.

Senada, pakar dan praktisi pasar karbon Paul Butar-Butar mengharapkan Indonesia betul-betul menjadi pemain utama dalam dekarbonisasi. “Tidak hanya sekadar slogan bahwa potensi jadi super power (karbon), tapi bagaimana kita merealisasikan itu,” ujar dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.